English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Bursa Wall Street Awal Pekan Dibayangi Tekanan Harga Minyak dan Yield Treasury AS

Vibiznews · 1 Views
Bursa Wall Street - Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wall Street pada penutupan akhir pekan lalu, Jumat (25/9), berakhir menguat dan mencatatkan kinerja mingguan yang positif berkat harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah. Namun, memasuki awal pekan ini, Senin (28/9), sentimen berbalik waspada setelah ketegangan Amerika Serikat–Iran kembali berlanjut di akhir pekan, yang berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melonjak 0,93% atau 478,64 poin ke level 51.828,62, Indeks S&P 500 menguat 0,51% ke level 7.743,41, dan Indeks Nasdaq Composite naik 0,5% ke level 27.068,72. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 turut naik tipis 0,1% ke level 2.837,55. Sepanjang pekan lalu, S&P 500 mencatat kenaikan 1,2%, Nasdaq naik 2,1%, dan Dow Jones naik 0,3% sehingga memutus tiga pekan beruntun pelemahan. Indeks S&P 500 kini hanya berjarak sekitar 0,7% dari rekor tertingginya yang dicetak bulan lalu.

Penguatan pada Jumat ditopang penurunan harga minyak dunia yang dipicu harapan Selat Hormuz dapat kembali dibuka, sehingga membantu meredam kenaikan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun yang sempat mendekati level tertingginya sejak 2007, yakni sekitar 5,22% pada Kamis sebelum bergerak di kisaran 5,18% pada Jumat. Dari sisi saham, Microsoft menjadi penopang utama Dow Jones dengan lonjakan 3,71%, diikuti Sherwin-Williams yang naik 2,72% dan Amgen 2,15%. Saham Akamai Technologies juga menguat setelah mengumumkan kesepakatan multiyear dengan Anthropic. Di sisi lain, Salesforce turun -1,76%, IBM melemah -0,71%, dan Nike terkoreksi -0,61%.

Namun, harapan tersebut mendapat ujian di akhir pekan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Jumat mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya kembali perundingan nuklir dengan AS dalam waktu tujuh hari, dengan syarat pemerintahan Presiden Donald Trump menerima ketentuan yang diajukan Teheran, di antaranya pencabutan blokade laut, pelonggaran sanksi minyak, dan pencairan aset Iran yang dibekukan. Trump pada Sabtu menyatakan telah menolak usulan tersebut, dengan alasan Iran menginginkan pembukaan selat secara segera karena posisinya yang melemah. Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump juga berencana kembali membom Teheran setelah pemilu paruh waktu AS pada November.

Pada Minggu, Araghchi menyatakan Iran siap menghadapi perang melawan AS, namun tetap membuka pintu diplomasi untuk perdamaian. Ia menegaskan bahwa syarat-syarat Iran tidak akan diturunkan, sembari menunggu tanggapan resmi AS yang disampaikan melalui mediator.

Sentimen tersebut langsung tercermin di pasar energi. Pada Senin, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak November naik 1,3% ke level $93,62 per barel, sementara minyak mentah Brent naik 1,8% ke level $106,31 per barel. Kenaikan harga energi ini memperbesar risiko tekanan inflasi dan berpotensi menahan penurunan imbal hasil obligasi, sekaligus mendorong permintaan aset safe haven seperti dolar AS. Kombinasi dolar yang menguat dan yield yang tinggi umumnya menjadi tekanan bagi valuasi saham, terutama sektor teknologi dan pertumbuhan.

Di sisi lain, sentimen positif dari sektor teknologi masih menjadi penopang. ETF sektor semikonduktor (SMH) naik sekitar 1% dan ETF sektor teknologi (XLK) menguat 0,8% pada perdagangan setelah penutupan Jumat. Secara teknikal, S&P 500 memiliki area dukungan di kisaran 7.650–7.690 yang merupakan zona gap pembukaan pekan lalu, dengan level 7.620 sebagai support berikutnya. Kalender ekonomi hari ini relatif sepi tanpa rilis data penting; data baru akan hadir pada Selasa berupa indeks kepercayaan konsumen dan data lowongan kerja JOLTS, disusul Rabu dengan data ADP, PDB kuartal II revisi ketiga, dan inflasi PCE, serta laporan keuangan Micron. Kekhawatiran terhadap daya beli konsumen juga menjadi perhatian, setelah rata-rata suku bunga KPR tetap 30 tahun melonjak ke 7,45%, level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall Street pada sesi perdagangan hari ini akan cenderung volatil dan rawan tertahan, karena penguatan pekan lalu yang bertumpu pada harapan kesepakatan AS–Iran kini berbalik menjadi risiko. Selama harga minyak bergerak naik dan imbal hasil Treasury bertahan di atas 5%, ruang penguatan indeks diperkirakan terbatas, dengan pelaku pasar mencermati perkembangan diplomasi AS–Iran serta rilis data PCE pada Rabu.