English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Rupiah di Tengah Tekanan Dolar AS dan Harga Minyak

Bloomberg Technoz · 1 Views

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan Kamis (24/9/2026) dengan pelemahan 0,26% ke Rp17.846/US$, seiring tekanan eksternal kembali meningkat. Tak lama, rupiah kembali terpeleset 0,32% ke Rp17.857/US$ pada 09:02 WIB. 

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) kembali naik 101,2, disusul yield US Treasury naik 15,5 basis poin (bps) jadi 5,11%. Belum lagi, pergerakan harga minyak yang menanjak ke US$102,05/barel semakin menambah kekhawatiran pasar soal inflasi. 

Tekanan tersebut semakin berisiko, karena dapat menyebabkan kebijakan moneter AS akan semakin ketat demi menahan laju inflasi. Setelah bank sentral Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pekan lalu, sebanyak 16 dari 18 pejabat The Fed memproyeksikan setidaknya satu kenaikan tambahan hingga akhir tahun. 

 
Ekspektasi inflasi dan langkah hawkish lanjutan oleh The Fed semakin menekan ruang penguatan bagi mata uang Asia. Pada perdagangan pagi ini, sebagian besar mata uang kawasan melemah. 

Baht Thailand melemah paling dalam. Disusul dolar Taiwan, won Korea Selatan, peso Filipina, ringgit Malaysia, yuan offshore, yuan China, dan dolar Singapura.

Sebaliknya, hanya yen Jepang yang mampu menguat bersama dolar Hong Kong.

Rupiah dan mata uang Asia melemah. (Bloomberg)

Tekanan yang terjadi pada mata uang Asia, termasuk rupiah berasal dari kombinasi faktor global. Kenaikan yield US Treasury membuat aset berbasis dolar AS kembali lebih menarik. Sementara, kenaikan harga minyak semakin meningkatkan risiko inflasi dan kebutuhan devisa negara-negara pengimpor minyak. 

Kemarin, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan BI Rate di 5,75%. Keputusan itu memberi ruang bagi BI untuk melihat perkembangan perekonomian usai kenaikan sebesar 100 bps. Namun, kenaikan 100 bps itu juga membuat ruang BI untuk merespons melalui suku bunga juga tidak selebar sebelumnya. 

Jika tekanan terhadap mata uang kawasan terus berlanjut, maka BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten. Kenaikan harga minyak di atas US$100/barel berpotensi menekan mata uang melalui meningkatnya biaya energi. Terlebih, adanya fenomena El Nino yang juga meningkatkan risiko gangguan produksi dan pasokan pangan. 

Bloomberg Economics memperkirakan inflasi kemungkinan akan menembus target 1,5-3,5% dalam beberapa bulan mendatang akibat harga minyak yang masih tinggi dan mulai munculnya El Nino. "Dengan pertumbuhan ekonomi yang kini berada di atas tren, kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya dampak lanjutan (spillover) terhadap harga barang dan jasa," kata Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, dalam catatannya.  

Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), memperkirakan BI kembali berpeluang mengambil langkah pengetatan pada sisa kuartal IV-2026. Menurut Faisal, langkah BI yang sebelumnya telah menaikkan BI Rate 100 bps pada Mei-Juni merupakan respons yang dilakukan secara lebih awal (front-loaded), antisipatif (pre-emptive), dan selangkah lebih maju (ahead of the curve) untuk mengantisipasi kenaikan Federal Funds Rate satu kali pada paruh kedua 2026.

"Namun, dengan semakin kuatnya ekspektasi terhadap kenaikan FFR pada kuartal IV, kami merevisi proyeksi dasar BI Rate dengan memasukkan kenaikan 25 bps pada kuartal IV-2026, sehingga BI Rate diperkirakan mencapai 6% pada akhir 2026," jelas Faisal.