

Market Analysis
Kilau Emas Dunia Redup Tertekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga emas dunia turun lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan Rabu (23/9/2026) waktu setempat atau Kamis (25/9/2026) pagi WIB, tertekan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,7 persen menjadi 4.282,53 dollar AS per troy ounce, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 17 September 2026.
Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup turun 1,3 persen ke level 4.318,40 dollar AS per troy ounce. Penguatan dollar AS menjadi salah satu faktor yang menekan harga emas.
Dollar AS berada di level tertinggi dalam dua bulan, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya dan mengurangi minat investor terhadap logam kuning tersebut.
"Emas tertekan oleh penguatan dollar AS. Pernyataan para pejabat The Fed setelah rapat FOMC cukup hawkish. Karena itu, pasar mulai memperkirakan setidaknya akan ada satu kali lagi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Hal tersebut menekan harga emas," ujar Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant.
Sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut masih mungkin dilakukan karena kekhawatiran terhadap inflasi.
Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee mengatakan, bank sentral AS mungkin perlu melihat gejolak harga energi saat ini sebagai sumber inflasi yang bertahan lebih lama, alih-alih berharap masalah tersebut akan mereda dengan sendirinya.
Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Tom Barkin dan Presiden Federal Reserve Bank of Boston Susan Collins juga menyatakan dukungan terhadap kenaikan suku bunga pekan lalu karena kekhawatiran terhadap inflasi.
Emas memang dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.
Namun, kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tarik emas dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mencapai 77 persen dan pada Desember mencapai 95 persen.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent kembali bergerak di atas 100 dollar AS per barrel setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan dapat "memusnahkan" Iran.
Pergerakan harga emas juga semakin berlawanan dengan harga minyak sejak perang AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari 2026.
Sebab, kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank-bank sentral.
Selain emas, harga logam mulia lainnya juga melemah.
Harga perak spot turun 3,9 persen menjadi 64,45 dollar AS per troy ounce, platinum turun 5 persen menjadi 1.741,83 dollar AS, sedangkan palladium turun 3,7 persen menjadi 1.259,24 dollar AS per troy ounce.

