English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Nasdaq Tembus Rekor, Wall Street Masih Cermati Perkembangan AS-Iran

Kompas · 1 Views

NEW YORK, KOMPAS.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Di mana indeks Nasdaq Composite mencetak rekor tertinggi baru.

Mengutip CNBC pada Rabu (23/9/2026), Nasdaq yang didominasi saham teknologi menguat 0,45 persen ke level 27.244,28.

Kenaikan ini didorong oleh penguatan saham Sandisk yang melonjak hampir 7 persen, setelah Rosenblatt memberikan pandangan positif terhadap saham tersebut.

Sementara, indeks S&P 500 turun tipis ke level 7.764,64.

Adapun Dow Jones Industrial Average melemah 185,14 poin atau 0,36 persen menjadi 51.863,69.

Pergerakan Wall Street terjadi seiring investor mencermati perkembangan pembicaraan antara AS dan Iran.

Harga minyak mentah turut bergerak turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pejabat AS telah menggelar “pertemuan yang sangat baik” dengan delegasi Iran.

Pertemuan tersebut berlangsung selama sekitar tiga jam.

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, turun 1,09 persen menjadi 99,25 dollar AS per barrel. Sedangkan harga minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) turun 1,24 persen menjadi 94,59 dollar AS per barrel.

Dengan begitu, harga Brent dan WTI telah turun selama lima hari perdagangan berturut-turut.

Dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa, Trump mengatakan dirinya harus mengambil “keputusan besar” terkait apakah akan melanjutkan kesepakatan dengan Iran atau “memusnahkan” negara tersebut.

Trump juga mengatakan dirinya yakin kesepakatan dengan Iran dapat tercapai setelah pemilu paruh waktu AS atau midterm election.

Menurut Trump, Iran saat ini menunggu untuk melihat bagaimana dirinya menghadapi pemilu tersebut.

Harga minyak sebelumnya juga tertekan setelah Iran dilaporkan menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.

Namun, laporan tersebut belum diverifikasi secara independen oleh CNBC.