English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Menabung atau Berinvestasi? Potret Keuangan Kelas Menengah di Tengah Ketidakpastian

Kompas · 1 Views

JAKARTA, KOMPAS.com - Menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung terdengar sederhana. Namun, bagi sebagian masyarakat kelas menengah, hal itu kini semakin sulit dilakukan.

Kebutuhan rumah tangga terus berjalan. Pendapatan tidak selalu bertambah dengan kecepatan yang sama.

Di sisi lain, masyarakat tetap membutuhkan dana cadangan untuk menghadapi keadaan darurat.

Pilihan untuk menempatkan uang juga semakin beragam. Selain tabungan dan deposito, masyarakat dapat memilih reksa dana, saham, obligasi, hingga emas.

Namun, ketika ekonomi penuh ketidakpastian, pertanyaannya bukan hanya berapa besar keuntungan investasi yang bisa diperoleh.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah seberapa kuat keuangan rumah tangga jika pendapatan tiba-tiba terganggu.

Gambaran tersebut terlihat dari hasil Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Pada Juni 2026, Indeks Menabung Konsumen (IMK) naik 1,6 poin dari bulan sebelumnya menjadi 81,7.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya kemauan masyarakat untuk menabung.

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan, Indeks Kemauan Menabung (IKMM) naik 3,5 poin menjadi 90,2.

Sementara itu, Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) justru turun 0,4 poin menjadi 73,2.

“Peningkatan kemauan menabung konsumen terutama tecermin dari membaiknya persepsi terhadap waktu yang tepat untuk menabung, sejalan dengan kebutuhan persiapan pengeluaran pendidikan dalam beberapa bulan mendatang,” tulis Anggito dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (8/7/2026)

Data tersebut menunjukkan adanya jarak antara keinginan dan kemampuan menabung.

Pada Juni 2026, sebanyak 27 persen responden menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menabung. Angka tersebut naik dari 25,5 persen pada Mei 2026.

Pandangan serupa muncul untuk tiga bulan mendatang. Responden yang menilai tiga bulan ke depan merupakan waktu yang tepat untuk menabung naik dari 33,7 persen menjadi 34,8 persen.

Namun, jumlah masyarakat yang menyatakan sering menabung justru turun.

Porsinya berkurang dari 18,9 persen pada Mei 2026 menjadi 17,1 persen pada Juni 2026.

Meski demikian, ada perkembangan positif. Responden yang menyatakan jumlah uang yang ditabung lebih kecil dari rencana turun dari 39,1 persen menjadi 37,1 persen.

Artinya, keinginan memiliki simpanan masih kuat. Namun, ruang untuk menambah tabungan tetap berhadapan dengan kebutuhan rumah tangga.

Saat Kelas Menengah Mulai Berhitung

Kondisi tersebut semakin relevan jika dikaitkan dengan situasi kelas menengah Indonesia.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Teguh Dartanto mengatakan, jumlah kelas menengah Indonesia terus menurun.

Dari 2024 ke 2025, jumlah kelas menengah berkurang sekitar 1,2 juta orang.

Menurut Teguh, tekanan terbesar berasal dari pasar tenaga kerja. Salah satunya semakin terbatasnya pekerjaan tetap atau penuh waktu di sektor formal.

“Tekanan utama kelas menengah menurut saya adalah lapangan pekerjaan terutama pekerjaan tetap (penuh waktu) sektor formal semakin menyempit karena kondisi perekonomian di Indonesia maupun global,” kata Teguh kepada Kompas.com.

Pada saat yang sama, pekerjaan yang tersedia semakin banyak bersifat informal dan paruh waktu.

Perubahan tersebut terlihat dari bertambahnya sekitar 1,4 juta tenaga kerja yang bekerja selama 5 sampai 9 jam per minggu.

Kondisi ini menunjukkan peningkatan pekerjaan paruh waktu sekaligus pengurangan jam kerja.

Bagi pekerja, berkurangnya jam kerja dapat menekan pendapatan.

Saat pendapatan tertekan, tabungan dan investasi menjadi pos yang ikut terdampak.

Teguh mengatakan, jumlah rekening dengan tabungan di bawah Rp100 juta juga mengalami penurunan. Jumlahnya dari sekitar 1,8 juta rekening pada 2024 menjadi 1,7 juta rekening pada 2026.

Tekanan tersebut turut mengubah pola belanja masyarakat.

Menurut Teguh, kelas menengah cenderung mengurangi pengeluaran untuk barang mahal atau kebutuhan yang membutuhkan biaya besar.

Sebagai gantinya, muncul fenomena lipstick effect.

Masyarakat tetap mengeluarkan uang untuk mendapatkan hiburan atau kepuasan, tetapi dengan nominal yang lebih kecil.

Contohnya membeli kosmetik atau makan di restoran yang lebih terjangkau.

Pengeluaran tersebut menjadi bentuk hiburan dan self reward ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi.