

Market Analysis
Selat Hormuz Masih Panas, Iran Pilih Meja Perundingan Ketimbang Kontak Senjata

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa konflik di Selat Hormuz tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan militer, melainkan harus melalui jalur diplomasi. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah aksi militer antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk pengawalan kapal oleh AS yang memicu respons keras dari Iran. Meski situasi masih panas, Araghchi menyebut bahwa pembicaraan damai yang dimediasi oleh Pakistan mulai menunjukkan kemajuan, sehingga masih ada harapan untuk meredakan konflik.
Bagi market, pernyataan ini memberikan sinyal campuran: di satu sisi ada harapan de-eskalasi karena negosiasi berjalan, namun di sisi lain ketegangan militer masih berlangsung sehingga risiko tetap tinggi. Artinya, harga minyak bisa tetap volatile tidak langsung turun karena konflik belum selesai, tetapi juga tidak naik ekstrem jika peluang damai semakin jelas. Untuk trader, kondisi ini mencerminkan fase “uncertain but hopeful”, di mana pergerakan market sangat sensitif terhadap update terbaru dari negosiasi maupun aksi militer di lapangan.
Calendar:


Analisa Teknikal
Trend : Bullish
Timeframe : H4
West Texas Intermediate (WTI) saat ini masih berada dalam tren bullish yang cukup kuat. Pergerakan harga terlihat tetap tertahan di atas indikator Moving Average (MA) 21 dan 34, yang mengindikasikan bahwa momentum kenaikan masih terjaga dan berpotensi berlanjut. Jika tren ini bertahan, harga berpeluang melanjutkan kenaikan menuju level resistance terdekat di 106.74, dengan target resistance berikutnya di 109.82. Meski demikian, penting untuk tetap memperhatikan batasan risiko, di mana level support berada pada 103.23 dan 101.67 sebagai area penahan jika terjadi koreksi harga.
Analisa Fundamental
Dari sisi fundamental, tren bullish pada West Texas Intermediate (WTI) saat ini sejalan dengan beberapa faktor pendukung utama. Permintaan minyak global cenderung tetap kuat, terutama dari negara-negara dengan aktivitas industri tinggi seperti China dan United States, yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi dan peningkatan konsumsi energi. Di sisi lain, kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan oleh OPEC+ terus membatasi pasokan di pasar global, sehingga menjaga keseimbangan supply-demand tetap ketat.
Selain itu, faktor geopolitik juga turut memberikan tekanan ke atas harga minyak. Ketegangan di wilayah penghasil minyak, khususnya di kawasan Timur Tengah, meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan. Dari sisi makroekonomi, pelemahan US Dollar juga menjadi katalis positif, karena membuat harga minyak lebih menarik bagi pemegang mata uang lain.
Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati potensi risiko, seperti kemungkinan perlambatan ekonomi global atau perubahan kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve, yang dapat menekan permintaan energi. Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, secara fundamental harga WTI masih memiliki ruang untuk melanjutkan kenaikan, sejalan dengan gambaran teknikal yang menunjukkan tren bullish.

Analisa Teknikal
Trend : Bullish
Timeframe : H1
Pada timeframe H1, pasangan USD/JPY menunjukkan potensi pergerakan naik sebagai secondary trend. Sebelumnya, harga sempat mengalami penurunan yang cukup signifikan akibat intervensi dari Bank of Japan (BOJ). Namun, saat ini terlihat adanya peluang rebound, di mana harga berpotensi bergerak menuju level resistance terdekat di 158.184, dengan target resistance berikutnya di 159.341. Jika diperhatikan lebih lanjut, harga juga telah membentuk area support yang cukup kuat, diperkuat dengan munculnya pola bullish engulfing sebagai sinyal pembalikan arah. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan beli mulai meningkat, sehingga potensi kenaikan harga saat ini terlihat lebih dominan dibandingkan kemungkinan pelemahan lanjutan.
Analisa Fundamental
Dari sisi fundamental, potensi kenaikan USD/JPY pada timeframe H1 sejalan dengan kombinasi faktor kebijakan moneter dan sentimen pasar. Di satu sisi, mata uang Yen sempat menguat akibat intervensi dari Bank of Japan (BOJ) yang berupaya menahan pelemahan Yen. Namun, efek intervensi tersebut cenderung bersifat sementara, sehingga tekanan terhadap Yen berpotensi kembali muncul.
Di sisi lain, penguatan Dolar AS masih didukung oleh kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan oleh Federal Reserve. Perbedaan kebijakan moneter antara Jepang yang cenderung longgar dan Amerika Serikat yang masih relatif ketat menciptakan divergence yang mendukung penguatan USD terhadap JPY.
Selain itu, data ekonomi Amerika Serikat yang tetap solid terutama dari sektor tenaga kerja dan inflasi turut menjaga permintaan terhadap Dolar AS. Sementara itu, dari sisi Jepang, kebijakan moneter yang masih akomodatif membuat Yen cenderung tertekan dalam jangka menengah. Dengan kondisi tersebut, secara fundamental USD/JPY masih memiliki peluang untuk bergerak naik, sejalan dengan sinyal teknikal yang menunjukkan potensi bullish dalam jangka pendek.

Analisa Teknikal
Trend : Bearish
Timeframe : Daily
Pada timeframe H4, pasangan EUR/USD menunjukkan potensi untuk melanjutkan pelemahan harga. Hal ini terlihat dari ketidakmampuan harga menembus level resistance sebelumnya di 1.17380 dan 1.17837, yang mengindikasikan bahwa tekanan jual masih cukup kuat. Dengan kondisi tersebut, harga berpeluang bergerak turun menuju level support terdekat di 1.16543, dengan target support berikutnya di 1.15886.
Selain itu, jika diperhatikan lebih lanjut, pergerakan harga saat ini juga membentuk pola ABC correction, yang umumnya mengindikasikan fase koreksi dalam tren. Pola ini memperkuat sinyal bahwa potensi pelemahan masih lebih dominan dalam jangka pendek
sebelum adanya kemungkinan perubahan arah tren yang lebih besar.
Analisa Fundamental
Dari sisi fundamental, potensi pelemahan EUR/USD pada timeframe H4 sejalan dengan perbedaan kondisi ekonomi dan kebijakan moneter antara kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Penguatan Dolar AS masih didukung oleh sikap kebijakan yang relatif ketat dari Federal Reserve, terutama dalam menjaga suku bunga tetap tinggi guna mengendalikan inflasi. Kondisi ini membuat aset berbasis Dolar tetap menarik bagi investor.
Sebaliknya, mata uang Euro cenderung tertekan akibat prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah di kawasan Eropa. European Central Bank (ECB) menghadapi dilema antara menjaga inflasi dan mendukung pertumbuhan, sehingga kebijakan yang diambil cenderung lebih hati-hati dibandingkan The Fed. Hal ini menciptakan perbedaan arah kebijakan (divergence) yang memperkuat tekanan terhadap EUR.
Selain itu, sentimen risiko global juga turut berperan. Ketika pasar cenderung mencari aset safe haven, permintaan terhadap Dolar AS meningkat, sementara Euro menjadi relatif kurang diminati. Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, secara fundamental EUR/USD masih memiliki kecenderungan untuk melemah, sejalan dengan gambaran teknikal yang menunjukkan potensi penurunan lanjutan.

Analisa Teknikal
Trend : Bearish
Timeframe : Daily
Pada timeframe daily, indeks Dow Jones Industrial Average masih menunjukkan kecenderungan pelemahan harga. Saat ini, pergerakan harga berpotensi membentuk pola Double Top, yang merupakan salah satu sinyal pembalikan arah tren. Namun, konfirmasi pola ini masih menunggu terjadinya breakout pada area neckline, yang sekaligus menjadi level support terdekat di 48,785.
Apabila harga berhasil menembus (breakout) level neckline tersebut, maka peluang pelemahan lanjutan akan semakin terbuka. Dalam skenario ini, target penurunan dari pola Double Top diperkirakan dapat mencapai level support berikutnya di 47,633, sehingga
tekanan jual berpotensi semakin dominan dalam jangka menengah.
Analisa Fundamental
Dari sisi fundamental, potensi pelemahan pada Dow Jones Industrial Average sejalan dengan meningkatnya tekanan dari faktor makroekonomi di Amerika Serikat. Salah satu pendorong utamanya adalah kebijakan moneter ketat yang masih dipertahankan oleh Federal Reserve, di mana suku bunga yang tinggi cenderung menekan kinerja pasar saham karena meningkatnya biaya pinjaman dan berkurangnya likuiditas di pasar.
Selain itu, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi juga mulai mempengaruhi sentimen investor. Data ekonomi yang menunjukkan potensi penurunan aktivitas bisnis atau melemahnya konsumsi dapat memicu aksi jual di pasar saham. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi membuat investor cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko seperti saham ke instrumen yang lebih aman.
Faktor lain yang turut menekan adalah ketidakpastian global, termasuk tensi geopolitik dan fluktuasi harga energi, yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan-perusahaan besar yang tergabung dalam indeks tersebut. Dengan kombinasi faktor-faktor ini, tekanan terhadap Dow Jones berpotensi berlanjut, sejalan dengan gambaran teknikal yang menunjukkan kemungkinan terbentuknya pola bearish dan peluang penurunan lanjutan.
Mulailah trading sekarang di Dupoin #All-in-One Trading App Download aplikasinya untuk mendapatkan update terbaru seputar dunia trading dan investasi. Dan jangan lupa untuk selalu membagikan konten ini ke sesama trader lainnya. Semoga bermanfaat!
DISCLAIMER ON
Perdagangan Derivatif melibatkan risiko yang signifikan dan dapat mengakibatkan hilangnya modal yang Anda transaksikan. Anda dianjurkan untuk membaca dan mempelajari dengan seksama legalitas perusahaan, produk dan aturan perdagangan sebelum memutuskan untuk memasukkan uang Anda ke dalam investasi. Bertanggung jawab dan akuntabel dalam perdagangan Anda.
KEBIJAKAN PRIVASI
PT. Dupoin Futures Indonesia memerlukan informasi pribadi bagi mereka yang mendaftar pada website Dupoin untuk keperluan internal. PT. Dupoin Futures Indonesia dan karyawan wajib menjaga kerahasiaan informasi klien dan dilarang untuk dibagikan kepada pihak ketiga. Namun jika diwajibkan oleh undang-undang PT. Dupoin Futures Indonesia dapat memberikan informasi tersebut kepada otoritas publik.
PERINGATAN RISIKO PADA PERDAGANGAN
Transaksi melalui margin merupakan produk yang menggunakan mekanisme leverage, memiliki resiko yang tinggi dan tidak dapat dipungkiri cocok untuk semua investor. TIDAK ADA JAMINAN KEUNTUNGAN atas investasi Anda dan karena itu berhati-hatilah terhadap mereka yang memberikan jaminan keuntungan dalam perdagangan. Anda disarankan untuk tidak menggunakan dana tersebut jika tidak siap menderita kerugian. Sebelum memutuskan untuk trading, pastikan Anda memahami risiko yang terjadi dan juga mempertimbangkan pengalaman Anda.

