English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Apakah Perang Mempengaruhi Naik Turunnya Harga Emas? Ini Jawabannya

Beladdina Annisa · 944.6K Views

Apakah Perang Mempengaruhi Naik Turunnya Harga Emas Ini Jawabannya

Pertanyaan mengenai apakah perang mempengaruhi naik turunnya harga emas kembali menjadi topik hangat di kalangan investor seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik di berbagai belahan dunia tahun 2026.
 
Secara historis, emas telah membuktikan perannya sebagai aset pelindung nilai utama saat ketidakpastian melanda pasar global. Ketika konflik bersenjata pecah, sentimen ketakutan sering kali memicu perpindahan modal besar-besaran dari aset berisiko seperti saham menuju instrumen yang lebih stabil
 
Artikel ini membedah secara mendalam bagaimana eskalasi perang dapat memicu lonjakan harga logam mulia, mengapa emas dijuluki sebagai "mata uang dalam keadaan darurat," serta faktor pendukung lainnya yang menentukan volatilitas harga emas di tengah kondisi dunia yang tidak menentu.

Dampak Perang Terhadap Harga Emas: Bearish atau Bullish?

Sejarah pasar keuangan mencatat pola yang nyaris selalu berulang: setiap kali peluru diletuskan dalam konflik berskala besar, investor berbondong-bondong lari ke aset safe haven. Namun, menganggap emas akan selalu naik selama perang adalah simplifikasi yang berbahaya. Mari kita bedah dinamikanya.

Mengapa Perang Membuat Harga Emas Naik?

Secara fundamental, emas tidak memberikan dividen dan tidak memiliki kupon bunga. Lantas, mengapa ia menjadi primadona saat perang pecah? Jawabannya terletak pada psikologi ketakutan dan stabilitas nilai.

1. Status Safe Haven

Ketika perang meletus seperti situasi terkini di Iran aset-aset berisiko seperti saham atau mata uang negara berkembang cenderung anjlok karena investor takut akan gangguan ekonomi. 

Emas dianggap sebagai "uang Tuhan" yang tidak terikat pada kinerja ekonomi pemerintah mana pun. Ia tidak bisa bangkrut, tidak bisa di-bailout, dan tidak memiliki risiko gagal bayar (default risk).

2. Ancaman Inflasi 

Akibat Harga Energi Perang, terutama yang melibatkan negara produsen minyak (seperti Iran atau Rusia), hampir pasti memicu lonjakan harga minyak mentah. Kenaikan harga energi akan mendongkrak biaya produksi dan transportasi global, yang berujung pada inflasi tinggi. 

Emas secara historis adalah aset terbaik untuk hedging (lindung nilai) melawan inflasi. Jadi, trader membeli emas bukan hanya karena takut perang, tapi takut uang kertas mereka tergerus inflasi pasca-perang.

3. Devaluasi Mata Uang 

Negara yang terlibat perang seringkali harus mencetak uang lebih banyak untuk membiayai militer, yang menyebabkan mata uang mereka melemah. 

Penduduk lokal di wilayah konflik akan membuang mata uang lokal mereka dan membeli emas fisik untuk menyelamatkan kekayaan mereka. Permintaan fisik ini turut mendongkrak harga spot global.

Lonjakan Harga Sesaat atau Tren Berkelanjutan?

image.png

Ini adalah jebakan terbesar bagi trader pemula. Melihat candle hijau panjang saat berita "breaking news" muncul, mereka langsung melakukan Buy (FOMO), padahal tren tersebut bisa saja hanya knee-jerk reaction (reaksi refleks sesaat).

Fase Kejutan vs. Fase Adaptasi Pasar membenci ketidakpastian, bukan berita buruk itu sendiri.

  • Fase Kejutan (Short Term Bullish): Saat berita perang baru pecah (misalnya serangan dadakan atau pemadaman internet total), emas akan melonjak drastis. Ini didorong oleh kepanikan murni.
  • Fase Adaptasi (Neutral/Bearish): Setelah perang berlangsung beberapa minggu dan pasar mulai bisa "mengukur" dampak kerusakannya, harga emas sering kali terkoreksi turun. Pasar sudah "price-in" (memperhitungkan) risiko tersebut.

Contoh klasik adalah pepatah di Wall Street: "Buy the rumor, sell the fact/news." Dalam konteks perang, sering kali berlaku: "Buy the invasion, sell the stalemate." Jika konflik berlarut-larut tanpa eskalasi baru yang signifikan, premi risiko pada harga emas akan perlahan memudar.

Oleh karena itu, untuk menentukan apakah tren ini berkelanjutan, kita harus melihat apakah konflik tersebut meluas (melibatkan negara adidaya lain) atau terlokalisir. Konflik yang meluas akan membuat tren bullish bertahan lama.

Pelajaran dari Sejarah saat Konflik Besar

Data historis memberikan kita peta jalan yang lebih jelas daripada sekadar spekulasi. Mari kita lihat bagaimana emas bereaksi pada konflik-konflik besar sebelumnya:

1. Invasi Rusia ke Ukraina (Februari 2022) 

Sesaat setelah invasi dimulai, harga emas melonjak tajam mendekati level $2.070 per troy ounce, nyaris menyentuh rekor tertingginya saat itu. Ketakutan akan Perang Dunia III memicu panic buying.

Hasil: Emas gagal bertahan di atas $2.000 dalam jangka pendek. Setelah pasar menyadari bahwa NATO tidak akan terlibat secara militer langsung, harga emas perlahan turun kembali di pertengahan 2022, ditambah dengan faktor kenaikan suku bunga The Fed.

2. Konflik Israel - Hamas (Oktober 2023) 

Ketika konflik pecah pada 7 Oktober, pasar emas dibuka dengan gap up (lompatan harga) pada hari Senin berikutnya. Harga emas reli dari kisaran $1.800-an menuju $2.000 dalam waktu singkat.

Hasil: Tren bullish pada prediksi emas 2026 cukup kuat karena adanya ketakutan konflik meluas ke negara-negara Arab lain dan Iran, yang bisa mengganggu pasokan minyak global.

3. Perang Teluk (1990-1991) 

Harga emas melonjak tajam saat invasi Irak ke Kuwait. Namun, begitu operasi "Desert Storm" dimulai dan AS menunjukkan dominasi militer yang cepat, harga emas justru jatuh drastis. Ini membuktikan bahwa ketika ketidakpastian hilang (meskipun perang masih berjalan), emas kehilangan daya tariknya.

Welcome Reward Digital - 1920_1080  (4) copy 2.jpg

Kapan Perang Bisa Menjadi Bearish untuk Emas?

Ini adalah skenario yang jarang dibahas namun sangat mungkin terjadi. Bagaimana bisa perang membuat harga emas turun?

1. Fenomena "Cash is King" 

Jika perang menyebabkan krisis ekonomi global yang parah hingga bursa saham (Wall Street) runtuh, investor besar (institusi) akan terkena Margin Call. Untuk menutup kerugian di pasar saham, mereka harus menyetor uang tunai segera. Apa yang mereka lakukan? Mereka akan menjual aset apa pun yang masih untung dan likuid. 

Emas adalah aset yang sangat likuid. Akibatnya, terjadi aksi jual massal pada emas justru di tengah krisis untuk mendapatkan uang tunai (US Dollar). Ini terjadi pada awal pandemi 2020 dan krisis 2008.

2. Penguatan Dolar AS (DXY) 

Dolar AS juga merupakan aset safe haven. Dalam situasi konflik, sering kali investor global memarkir dananya di obligasi AS (US Treasury) dan mata uang USD. 

Karena emas dihargai dalam dolar (XAU/USD), jika Dolar AS menguat drastis (DXY naik), maka harga emas secara relatif akan menjadi mahal dan tertekan turun. Jika perang membuat Dolar AS menjadi "raja", emas bisa tersingkir.

3. Kenaikan Suku Bunga untuk Melawan Inflasi Perang 

Jika perang memicu inflasi tinggi, Bank Sentral (The Fed) akan merespons dengan menaikkan suku bunga secara agresif. Suku bunga tinggi adalah musuh alami emas (karena emas tidak memberi bunga). Hal ini bisa memicu tren bearish struktural meskipun perang masih berlangsung.

Strategi Trading Emas (XAUUSD) di Tengah Konflik Global

image.png

Trading emas saat kondisi geopolitik memanas seperti kasus Iran saat ini menawarkan volatilitas tinggi artinya potensi profit besar, tapi risiko juga raksasa. Berikut strateginya:

1. Jangan Kejar Harga

 Saat berita pemadaman internet atau serangan rudal keluar, chart M1 atau M5 mungkin akan membentuk tiang hijau panjang. Jangan masuk Buy di pucuk. Tunggulah pullback (koreksi sesaat). Pasar biasanya akan melakukan retest ke area support terdekat sebelum melanjutkan kenaikan.

2. Kurangi Ukuran Lot 

Volatilitas saat perang bisa membuat pergerakan harian emas yang biasanya 100-200 pips melonjak menjadi 300-500 pips dalam hitungan jam. 

Jika Anda menggunakan lot normal, Stop Loss Anda akan mudah tersentuh atau akun Anda terkena Margin Call karena whipsaw (pergerakan naik-turun cepat). Kurangi lot hingga 50% dari biasanya.

3. Perhatikan Level Kunci Psikologis 

Dalam kondisi panik, analisis teknikal yang rumit sering kali gagal, tetapi level psikologis (angka bulat) tetap dihormati. Perhatikan level seperti $2000, $2050, $2100, dst. Area ini sering menjadi tempat Take Profit massal para institusi.

4. Fokus pada "Safe Haven" 

Selalu buka chart DXY (Indeks Dolar) dan US10Y (Yield Obligasi AS) berdampingan dengan chart XAUUSD.

  • Jika DXY naik kencang + Emas naik kencang = Kepanikan Murni (Sangat Bullish).
  • Jika DXY naik kencang + Emas diam/turun = Pasar lebih memilih Dolar (Waspada Bearish/Koreksi).

Perang dan ketegangan geopolitik seperti di Iran saat ini adalah katalis kuat untuk kenaikan harga emas jangka pendek (Bullish). Namun, trader harus waspada. Tren ini bisa berbalik menjadi Bearish atau terkoreksi tajam jika Dolar AS terlalu kuat atau jika konflik tidak meluas lebih jauh. 

 

Mulailah trading sekarang di Dupoin #All-in-One Trading App Download aplikasinya untuk mendapatkan update terbaru seputar dunia trading dan investasi. Dan jangan lupa untuk selalu membagikan konten ini ke sesama trader lainnya. Semoga bermanfaat!