English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Sinyal Hawkish The Fed Tak Terlalu Ditakuti, Pasar Fokus ke Review MSCI

Kompas · 1 Views

JAKARTA, KOMPAS.com - Sinyal hawkish yang disampaikan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), dinilai tidak lagi menjadi fokus utama yang menggerakkan pasar saham Indonesia.

Investor justru menaruh perhatian pada hasil review Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap bursa nasional yang sangat menentukan arah arus dana asing (capital flow) dan menggerakkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

The Fed sendiri mempertahankan suku bunga acuannya (Fed Rate) di kisaran 3,5 persen-3,75 persen dalam rapat kebijakan terbarunya, Rabu (17/6/2026) waktu AS. Namun, di balik keputusan yang sesuai ekspektasi pasar itu, bank sentral AS mengirim sinyal yang lebih hawkish dan mengindikasikan arah kebijakan moneter yang berpotensi lebih ketat pada sisa tahun 2026.

Sementara, MSCI merilis hasil evaluasi tahunan terhadap aksesibilitas pasar modal global melalui Global Market Accessibility Review2026 pada 18 Juni 2026 pukul 22:30 CEST atau sekitar pukul 03.30 dini hari, Jumat (19/6/2026) WIB.

Selanjutnya, MSCI akan mengumumkan hasil Annual Market Classification Review 2026 pada 23 Juni 2026. Dalam tinjauan ini, pasar menunggu kepastian apakah Indonesia tetap mempertahankan status sebagai emerging market atau justru berisiko turun menjadi frontier market.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai risiko terjadinya arus keluar modal asing (capital outflow) secara besar-besaran dari pasar keuangan Indonesia relatif terbatas meski Federal Reserve memberikan sinyal hawkish dalam kebijakan moneternya.

Terdapat dua faktor utama yang masih menjaga daya tarik aset-aset keuangan Indonesia di mata investor global. Pertama, selisih suku bunga acuan antara Bank Indonesia (BI Rate) dan The Fed (Fed Funds Rate) saat ini berada di kisaran 200 basis poin (bps).

“Untuk saat ini, risiko terjadinya outflow yang masif relatif bisa diredam. Ada dua alasan utamanya, pertama selisih (spread) suku bunga acuan antara BI Rate dan Fed Funds Rate saat ini berada di level 200 bps,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam (18/6/2026).

Spread tersebut masih cukup lebar untuk mengompensasi risiko investasi di Indonesia. Selain itu, BI juga masih membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga hingga akhir tahun apabila diperlukan.

Faktor kedua adalah valuasi saham Indonesia sudah berada pada level yang menarik setelah mengalami koreksi cukup dalam sejak beberapa pekan terakhir.

“Dari sisi harga, valuasi IHSG saat ini sudah terdiskon cukup dalam,” paparnya.

Daya tarik yield yang tebal dan valuasi saham yang murah justru memberikan alasan kuat bagi investor asing untuk tetap bertahan atau bahkan mulai mencatatkan inflow kembali.