English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Rupiah Tembus Rp18.011 per Dolar AS, Tekanan terhadap Mata Uang RI Semakin Berat

Geraldo Kofit · 1 Views

Nilai tukar rupiah di pasar luar negeri (offshore) kembali melemah dan untuk pertama kalinya menembus level Rp18.011 per dolar AS. Angka ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang Indonesia masih sangat kuat di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dan pasar keuangan global.

Pelemahan rupiah di pasar offshore terjadi setelah dalam beberapa hari terakhir mata uang Garuda terus mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.984 per dolar AS dan beberapa kali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah.

Bagi pelaku pasar, pergerakan rupiah di luar negeri sering menjadi indikator awal sentimen investor terhadap aset Indonesia. Ketika rupiah offshore melemah lebih dalam, pasar biasanya akan mencermati potensi tekanan lanjutan pada pasar spot, obligasi, dan saham domestik.

Saat ini, fokus investor tertuju pada perkembangan ekonomi global, pergerakan dolar AS, harga minyak dunia, serta langkah kebijakan yang akan ditempuh otoritas Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Selama sentimen eksternal masih kuat dan permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi, volatilitas rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek.

 

Calendar:

Calendar February, 19.png

 

WTI / OIL

image.png

Analisa Teknikal

Trend: Bullish

Timeframe: H4 

Pada timeframe H4, WTI masih menunjukkan potensi penguatan yang cukup signifikan didukung oleh beberapa faktor teknikal yang mendukung skenario bullish. Harga saat ini membentuk pola Inverse Head and Shoulders, yang merupakan salah satu pola pembalikan arah yang mengindikasikan berakhirnya tren turun dan dimulainya tren naik baru.

Selain itu, struktur pergerakan harga juga menunjukkan adanya transisi dari bearish trend menjadi bullish trend, yang mengonfirmasi meningkatnya dominasi buyer di pasar. Selama harga mampu bertahan di atas area support yang telah terbentuk, WTI berpotensi melanjutkan kenaikan menuju resistance terdekat di level 97.54, dengan target resistance berikutnya berada di 99.38.

Analisa Fundamental

Dari sisi fundamental, harga WTI berpotensi melanjutkan penguatan apabila pasar kembali optimistis terhadap prospek permintaan energi global. Meningkatnya aktivitas ekonomi, sektor manufaktur, dan kebutuhan transportasi di negara-negara konsumen utama seperti Amerika Serikat dan China dapat mendorong ekspektasi kenaikan konsumsi minyak dalam beberapa waktu ke depan.

Selain itu, kebijakan pembatasan produksi dari OPEC+ serta potensi gangguan pasokan dari beberapa wilayah produsen minyak dapat menjaga pasokan global tetap ketat. Kombinasi antara prospek permintaan yang kuat dan pasokan yang terbatas berpotensi menjadi katalis positif bagi harga WTI, sejalan dengan analisis teknikal yang menunjukkan peluang kenaikan menuju area resistance 97.54 hingga 99.38.

 

USD / JPY

image.png 

Analisa Teknikal

Trend: Bullish

Timeframe: H4

Pada timeframe H4, USDJPY menunjukkan tanda-tanda mulai kehilangan momentum bullish setelah beberapa kali gagal menembus area resistance 160.072. Penolakan harga yang berulang di level tersebut mengindikasikan bahwa tekanan beli mulai melemah dan area resistance tersebut menjadi penghalang kuat bagi kelanjutan kenaikan harga.

Selain itu, indikator Stochastic juga beberapa kali tertahan di area overbought, yang mencerminkan kondisi jenuh beli dan meningkatkan risiko terjadinya koreksi. Dengan momentum yang mulai melemah, harga berpotensi membentuk secondary trend atau koreksi jangka pendek. Selama harga tetap berada di bawah resistance 160.072, USDJPY berpeluang bergerak turun menuju support terdekat di level
159.571 sebagai target koreksi berikutnya.

Analisa Fundamental

Dari sisi fundamental, potensi koreksi pada USDJPY dapat didukung oleh meningkatnya permintaan terhadap Yen Jepang sebagai aset safe haven, terutama jika sentimen pasar global berubah menjadi lebih berhati-hati (risk-off). Dalam kondisi tersebut, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke mata uang yang dianggap lebih aman, sehingga dapat memberikan dukungan bagi penguatan Yen.

Selain itu, apabila imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield) mulai melemah atau pasar kembali meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, maka daya tarik Dolar AS dapat berkurang dalam jangka pendek. Di sisi lain, meningkatnya spekulasi terkait normalisasi kebijakan moneter oleh Bank of Japan juga dapat memberikan sentimen positif bagi Yen. Kombinasi faktor tersebut berpotensi mendorong koreksi pada USDJPY, sejalan dengan analisis teknikal yang mengarah pada potensi penurunan menuju area support 159.571.

 

EUR / USD

image.png 

Analisa Teknikal

Trend: Bearish

Timeframe: Daily

Pada timeframe Daily, EUR/USD masih menunjukkan potensi pelemahan yang cukup kuat karena pergerakan harga masih didominasi oleh candlestick bearish dan pembentukan swing high yang mengindikasikan bahwa tekanan jual masih menguasai pasar. Struktur harga yang terus membentuk puncak yang lebih rendah juga menjadi sinyal bahwa tren bearish masih tetap terjaga.

Selain itu, indikator Stochastic masih bergerak turun dan memberikan indikasi pelemahan menuju zona oversold (jenuh jual), yang menunjukkan bahwa momentum bearish masih mendominasi pergerakan harga. Selama belum ada sinyal pembalikan arah yang signifikan, EUR/USD berpotensi melanjutkan penurunan menuju support terdekat di level 1.15752, dengan target support berikutnya berada di 1.15234 apabila tekanan jual terus berlanjut.

Analisa Fundamental

Dari sisi fundamental, tekanan terhadap EUR/USD masih berpotensi berlanjut apabila Dolar AS tetap mendapatkan dukungan dari data ekonomi Amerika Serikat yang kuat, seperti sektor tenaga kerja, inflasi, dan aktivitas bisnis yang masih menunjukkan ketahanan. Kondisi tersebut dapat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga pada level yang relatif tinggi, sehingga mendukung penguatan Dolar AS.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa yang masih menghadapi tantangan serta prospek kebijakan moneter yang lebih longgar dari European Central Bank dapat membatasi penguatan Euro. Perbedaan prospek ekonomi dan kebijakan moneter antara AS dan Eropa tersebut berpotensi menjaga tekanan bearish pada EUR/USD, sejalan dengan analisis teknikal yang mengarah pada potensi penurunan menuju area support 1.15752 hingga 1.15234.

 

DOW / Dowjones

image.png 

Analisa Teknikal

Trend: Bearish

Timeframe: Daily

Dari sisi fundamental, Dow Jones Industrial Average (DJIA) berpotensi mengalami koreksi setelah mencatat kenaikan yang cukup kuat dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini dapat memicu aksi profit taking dari investor, terutama ketika indeks berada di area resistance penting dan valuasi pasar mulai dianggap kurang menarik untuk pembelian jangka pendek.

Selain itu, sentimen pasar dapat menjadi lebih berhati-hati apabila ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve kembali mengarah pada suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield) yang tetap tinggi juga dapat mengurangi minat investor terhadap aset berisiko seperti saham. Kombinasi aksi ambil untung, tingginya yield obligasi, dan meningkatnya kehati-hatian pasar berpotensi mendukung skenario bearish pada DJIA, sejalan dengan analisis teknikal yang mengarah pada potensi penurunan menuju area support 50.406 hingga 49.425.

 

Analisa Fundamental

Dari sisi fundamental, Dow Jones Industrial Average (DJIA) berpotensi menghadapi tekanan jual apabila pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh Federal Reserve. Sikap The Fed yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi dapat membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham-saham yang menjadi komponen utama DJIA.

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield) dan potensi perlambatan pertumbuhan laba perusahaan dapat memicu aksi ambil untung setelah reli yang cukup panjang. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi minat beli di pasar saham dan mendorong terjadinya koreksi jangka pendek. Kombinasi faktor tersebut sejalan dengan analisis teknikal yang menunjukkan terbentuknya pola Double Top, Bearish Engulfing, dan Bearish Divergence, sehingga membuka peluang bagi DJIA untuk bergerak turun menuju area support 50.406 hingga 49.425.

 

 

Mulailah trading sekarang di Dupoin #All-in-One Trading App Download aplikasinya untuk mendapatkan update terbaru seputar dunia trading dan investasi. Dan jangan lupa untuk selalu membagikan konten ini ke sesama trader lainnya. Semoga bermanfaat!

 

DISCLAIMER ON

Perdagangan Derivatif melibatkan risiko yang signifikan dan dapat mengakibatkan hilangnya modal yang Anda transaksikan. Anda dianjurkan untuk membaca dan mempelajari dengan seksama legalitas perusahaan, produk dan aturan perdagangan sebelum memutuskan untuk memasukkan uang Anda ke dalam investasi. Bertanggung jawab dan akuntabel dalam perdagangan Anda.

KEBIJAKAN PRIVASI

PT. Dupoin Futures Indonesia memerlukan informasi pribadi bagi mereka yang mendaftar pada website Dupoin untuk keperluan internal. PT. Dupoin Futures Indonesia dan karyawan wajib menjaga kerahasiaan informasi klien dan dilarang untuk dibagikan kepada pihak ketiga. Namun jika diwajibkan oleh undang-undang PT. Dupoin Futures Indonesia dapat memberikan informasi tersebut kepada otoritas publik.

PERINGATAN RISIKO PADA PERDAGANGAN

Transaksi melalui margin merupakan produk yang menggunakan mekanisme leverage, memiliki resiko yang tinggi dan tidak dapat dipungkiri cocok untuk semua investor. TIDAK ADA JAMINAN KEUNTUNGAN atas investasi Anda dan karena itu berhati-hatilah terhadap mereka yang memberikan jaminan keuntungan dalam perdagangan. Anda disarankan untuk tidak menggunakan dana tersebut jika tidak siap menderita kerugian. Sebelum memutuskan untuk trading, pastikan Anda memahami risiko yang terjadi dan juga mempertimbangkan pengalaman Anda.