

Market Analysis
Mata Uang Asia Tiarap, Dihantam Kenaikan Harga Minyak

Bloomberg Technoz, Jakarta - Mata uang kawasan Asia hari ini (28/5/2026) terpukul oleh kabar kembali meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, dan menyebabkan harga minyak mentah dunia kembali naik.
Baht Thailand menjadi mata uang paling tertekan siang ini pada 13.10 WIB dengan pelemahan 0,39%, disusul won Korea Selatan 0,38%, ringgit Malaysia 0,23%, dolar Singapura 0,16%, yuan offshore 0,06%, yuan China 0,05%, dolar Taiwan 0,04%, dan yen Jepang 0,02%.
Harga minyak mentah jenis Brent kembali terkerek 3,1% ke level US$97,09 per barel, dan minyak WTI naik 3,32% ke US$91,64%.
Kenaikan harga minyak ini terjadi lantaran AS dikabarkan kembali melancarkan serangan udara ke fasilitas militer Iran, setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang boleh menguasai Selat Hormuz, yang menjadi jalur pelayaran vital dunia."Pendorong utama pelemahan mata uang Asia pada Kamis ini adalah meningkatnya kembali permusuhan di Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak spot dan imbal hasil obligasi AS," kata Maximillian Lin, strategis valas dan suku bunga Asia di Canadian Imperal Bank of Commerce, seperti dikutip Bloomberg News.
Menurut dia, permintaan terhadap dolar AS di kawasan Asia juga meningkat setelah Gedung Putih membantah proposal perdamaian yang sempat bocor melalui media pemerintah Iran dan menyebut dokumen tersebut sebagai rekayasa.
Kembali naiknya tensi geopolitik ini juga mendorong pergerakan di pasar global. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 4 basis poin (bps) ke 4,53%. Begitu juga yield obligasi Korea Selatan tenor 10 tahun naik 2,9 bps menjadi 4,13%, sedangkan yield obligasi China justru turun 7,9 bps ke 1,72%.
Di tengah ketegangan yang menyeret mata uang Asia ke zona merah, rupiah dan rupee India di pasar spot tak bergerak ke mana-mana karena pasar libur dalam rangka Idul Adha.
Meski pasar spot libur, rupiah di pasar offshore masih bergerak liar dan telah melampaui Rp17.900-an/US$ pada perdagangan siang ini.
Melansir data Bloomberg pada 13.12 WIB, rupiah di luar negeri Rp17.945/US$ pada 10.56 WIB. Kini kembali bergerak menguat terbatas ke posisi Rp17.892/US menyisakan pelemahan 0,03% dari posisi pembukaannya di Rp17.886/US$.

