

Market Analysis
Penyebab Rupiah Melemah pada 2026, Investor Asing Keluar

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah cenderung melemah pada 2026 di tengah aksi jual investor asing di pasar obligasi dan pasar saham Tanah Air.
Pada perdagangan kemarin, Kamis (7/5), nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,30% ke level Rp17.320 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah diperdagangkan di level Rp17.372—Rp17.292. Adapun, rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang masa setelah menembus Rp17.000 pada 2026.
Pelemahan rupiah turut dipengaruhi performa pasar obligasi. Melansir data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield acuan SBN telah ambles ke level 6,84% pada perdagangan hari ini, Kamis (7/5/2026).
Posisi tersebut mencerminkan pelemahan 11,94% sepanjang tahun berjalan 2026 (year-to-date/YtD) dari level 6,11% pada awal tahun.
Sejalan dengan lesunya yield SBN yang mencerminkan semakin amblesnya harga Surat Berharga Negara (SBN), investor asing juga berbondong-bondong melepas kepemilikan mereka. Aksi net sell asing di pasar SBN tercatat senilai Rp12,12 triliun YtD ke level Rp867,81 triliun.
Diperinci, kepemilikan asing atas Surat Utang Negara (SUN) menjadi yang terbanyak dilego, dengan nilai mencapai Rp11,62 triliun YtD. Sementara Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk hanya tercatat mengalami net sell senilai Rp490 miliar.
Kian menyusutnya kepemilikan asing sebetulnya baru betul-betul terasa pada Maret 2026. Pasalnya, pada Februari 2026, pasar modal Tanah Air menghadapi berbagai tekanan. Di pasar saham, MSCI Inc. membekukan rebalancing saham RI dan tidak berselang lama, lembaga pemeringkat kredit Moody’s menurunkan outlook kredit RI menjadi negatif.
Alhasil, sebanyak Rp3,81 triliun dana asing meninggalkan pasar SBN saat memasuki Maret 2026. Namun, tekanan belum berakhir karena pada April 2026, Fitch Ratings sebagai salah satu lembaga pemeringkat ternama global, turut menurunkan outlook kredit RI menjadi negatif.
Alhasil, kian deras dana asing yang mengalir keluar RI, dengan April 2026 tercatat tersisa senilai Rp856,14 triliun atau menguap Rp23,79 triliun pada periode Januari—April 2026.
Di pasar saham, investor asing cenderung keluar dengan net sell Rp49,03 triliun secara YtD per Kamis (7/5/2026). IHSG berada di posisi 7.174,32, menyusut 17,03% YtD.
Menguapnya dana asing memiliki korelasi dengan kian lesunya nilai tukar rupiah. Sepanjang periode Januari—Februari 2026, dana asing yang menguap di pasar SBN tercatat senilai Rp510 miliar dan hanya menekan rupiah 0,76% ke level Rp16.802 per dolar AS pada akhir Februari 2026.
Namun, penurunan outlook kredit oleh dua lembaga pemeringkat ternama global pada periode Maret—April 2026, segera menekan rupiah lebih parah. Dengan kaburnya dana asing senilai Rp19,47 triliun pada periode Maret—April 2026, rupiah bahkan mengalami koreksi 2,69% ke level Rp17.317 per dolar AS pada akhir April.
Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI Salvian Fernando menilai net sell di pasar SBN memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pelemahan rupiah. Hal itu terutama disebabkan lantaran SBN merupakan salah satu instrumen utama pintu masuk modal asing di RI.
”Ketika investor asing melakukan penjualan SBN dalam jumlah besar, maka proses repatriasi dana dari rupiah ke dolar AS otomatis meningkatkan permintaan valas dan menekan nilai tukar rupiah,” katanya kepada Bisnis, Kamis (7/5/2026).
Salvian menilai, pelemahan rupiah yang saat ini terjadi tidak hanya disebabkan oleh faktor domestik atau aksi net sell investor asing di pasar SBN semata. Melainkan, datang dari tekanan eksternal yang masih mendominasi minat pasar lantaran tingginya suku bunga global yang bertahan lebih lama.
Selain itu, ketegangan geopolitik antara Iran dan AS juga turut membuat investor memburu aset safe haven untuk mengamankan dana mereka di tengah pasar yang volatil.
PHEI turut memprediksi yield SBN akan bergerak di level yang tinggi hingga enam bulan pertama 2026. Pasalnya, arah yield ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga global, stabilitas rupiah, dan keberhasilan pemerintah menjaga persepsi atas kredibilitas fiskal.
Selain itu, selama tekanan dolar AS masih kuat dan mendorong arus keluar modal asing kian menganga, maka ruang penurunan yield SBN masih akan bergerak secara terbatas.
”Apabila stabilitas rupiah mulai membaik, inflasi domestik tetap terkendali, serta terdapat ruang pelonggaran moneter global pada semester II/2026, maka yield SBN berpotensi mengalami normalisasi secara bertahap,” tambah Salvian.

