English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Perang Iran Makin Tak Terkendali, Sesumbar Trump Tak Terbukti?

KOMPAS · 1 Views

WASHINGTON, KOMPAS.com - Dua bulan setelah perang di Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai menghadapi kenyataan pahit. 

Konflik yang awalnya diprediksi akan berlangsung singkat kini berubah menjadi konfrontasi mahal yang tidak populer, tanpa tujuan akhir jelas, serta mengguncang pasar energi global.

Pentagon baru-baru ini merilis perkiraan publik pertama mengenai biaya operasi militer tersebut yang telah menyentuh angka 25 miliar dollar AS (sekitar Rp 400 triliun). 

Di tengah tekanan ekonomi dan kecaman sekutu internasional, Trump tetap bersikeras bahwa keputusannya sudah tepat.

“Saya melakukan sesuatu yang, entah, bodoh, berani, tetapi itu cerdas. Saya akan melakukannya lagi,” ujar Trump di hadapan pendukungnya di The Villages, Florida, Jumat (1/5/2026), dikutip dari New York Times. 

Namun, optimisme Trump mulai berbenturan dengan realitas di Capitol Hill, di mana rekan-rekan partainya di Republik mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sabar.

Meski militer AS dan Israel berhasil menghancurkan target-target strategis serta membunuh pemimpin senior Teheran, struktur pemerintahan Iran terbukti masih utuh dan mampu memberikan perlawanan yang merugikan. 

Trump mencoba memenangkan opini publik dan membandingkan durasi konflik ini dengan Perang Vietnam atau Irak, menyebut keterlibatan di Iran sama sekali tidak lama.

Namun, janji-janji mengenai terobosan diplomatik yang diisyaratkan tiga minggu lalu kini menguap.

Harapan bahwa Iran akan segera menyerahkan uranium yang diperkaya dan harga bensin akan turun belum menjadi kenyataan. 

Trump bahkan menunjukkan pesan yang kontradiktif mengenai masa depan negosiasi. Ia sempat mengejek kepemimpinan Teheran yang dianggapnya tidak terkoordinasi hingga sulit menentukan siapa lawan bicara yang sah.

Pada Sabtu, Trump mempertegas pendiriannya terhadap proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. 

“Terus terang, mungkin lebih baik kita tidak membuat kesepakatan sama sekali. Apakah Anda ingin tahu yang sebenarnya? Karena kita tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut,” ujarnya.

Saat ini, kedua belah pihak terjebak dalam adu kekuatan. AS terus mempertahankan blokade pelayaran, sementara Iran menolak menyerah pada tuntutan denuklirisasi.