English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Harga Minyak Melambung, Sentimen Pasar Tekan Bursa Saham Asia

Bloomberg Technoz · 1 Views

Bloomberg Technoz, Bursa saham Asia diperkirakan melemah pada perdagangan Kamis (30/4) seiring meningkatnya ketidakpastian akibat perang di Iran yang memicu lonjakan harga minyak.

Indeks berjangka (futures) untuk pasar Jepang, Australia, dan Hong Kong terpantau kompak memerah pada Kamis (30/4) pagi. Pergerakan ini menyusul penutupan indeks S&P 500 yang cenderung stagnan pada hari Rabu, meski Nasdaq 100 berhasil mencatatkan penguatan tipis. Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi AS (Treasury) meningkat setelah Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga, yang turut memperkuat posisi dolar AS.

Sementara itu, nilai tukar yen terpantau stabil pada Kamis pagi setelah sempat merosot melewati level 160 per dolar AS—titik terlemahnya tahun ini. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pembuat kebijakan di Jepang dan meningkatkan risiko adanya intervensi pasar oleh otoritas setempat untuk menopang mata uang tersebut.

Indeks saham berjangka AS sempat menguat pada Kamis, membalikkan penurunan sebelumnya berkat kenaikan harga saham Alphabet Inc dan Amazon.com Inc di akhir perdagangan. Namun, saham Meta Platforms Inc dan Microsoft Corp justru merosot pada sesi penutupan pasar, memperpanjang kekhawatiran investor terkait besarnya pengeluaran perusahaan untuk teknologi kecerdasan buatan (AI).

Harga minyak mentah AS dibuka naik 1,2% pada Kamis setelah Donald Trump menegaskan kepada Axios bahwa ia tidak akan mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran hingga tercapai kesepakatan nuklir dengan Teheran. Kebuntuan di Selat Hormuz ini telah memicu krisis energi global, dengan minyak Brent kini mendekati level US$120 per barel.

"Selama tidak ada rencana jelas untuk mengakhiri kekacauan ini atau setidaknya membuka kembali Selat Hormuz, pasar akan terus merangkak naik," ujar Robert Yawger, Direktur Divisi Energy Futures di Mizuho Securities USA.

Grafik pergerakan harga minyak. (Sumber: Bloomberg)

The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, namun pertemuan tersebut mengungkap perpecahan yang makin dalam mengenai prospek kebijakan ke depan. Para pelaku pasar kini mulai meninggalkan taruhan pada pemangkasan suku bunga tahun ini dan justru mulai memperhitungkan peluang kenaikan bunga pada 2027. Dampaknya, imbal hasil Treasury 10-tahun menyentuh level tertinggi dalam satu bulan.

Dalam pernyataan resminya, pejabat The Fed sedikit mengubah narasi dengan menyebut bahwa "perkembangan di Timur Tengah berkontribusi pada tingginya tingkat ketidakpastian prospek ekonomi." Mereka tetap mempertahankan frasa terkait “besaran dan waktu penyesuaian tambahan” terhadap suku bunga.

Pertemuan tersebut juga menunjukkan friksi internal. Gubernur The Fed Cleveland Beth Hammack, bersama Neel Kashkari dari Minneapolis dan Lorie Logan dari Dallas, "mendukung dipertahankannya suku bunga namun menolak penyertaan bias pelonggaran dalam pernyataan kali ini." Sebaliknya, Deputi Gubernur Stephen Miran memberikan suara berbeda karena lebih mendukung pemangkasan bunga.

“Adanya tiga penolakan terhadap bahasa dalam pernyataan tersebut menunjukkan kemiringan ke arah hawkish, seiring beberapa pejabat bersiap menghadapi kemungkinan inflasi tetap tinggi lebih lama,” kata Angelo Kourkafas dari Edward Jones. "Kami memperkirakan The Fed akan tetap menahan bunga dalam beberapa bulan ke depan."

Konferensi pers Jerome Powell kali ini menjadi yang terakhir baginya sebagai pemimpin bank sentral. Hal ini terjadi setelah Departemen Kehakiman menghentikan investigasi kriminal kontroversial terhadap The Fed, yang membuka jalan bagi Senat untuk mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai Gubrnur The Fed berikutnya. Meski segera lengser dari kursi gubernur, Powell menyatakan akan tetap berada di bank sentral sebagai anggota dewan gubernur.