

Market Analysis
Wall Street Ditutup Tertekan Setelah Reli, Investor Tunggu Katalis Baru
KOMPAS.com - Wall Street tersendat, setelah sempat mencetak rekor tertinggi. Bursa saham Amerika Serikat ini justru berbalik melemah pada perdagangan Kamis (24/4/2026), tertekan sektor teknologi, khususnya perangkat lunak, serta lonjakan harga minyak di tengah memanasnya konflik Iran.
Mengutip CNBC pada Jumat (24/4/2026), indeks S&P 500 ditutup turun 0,41 persen ke level 7.108,40, setelah sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi intraday sepanjang masa.
Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi juga terkoreksi 0,89 persen ke posisi 24.438,50, meski sempat mencatatkan rekor baru dalam sesi yang sama. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 179,71 poin atau 0,36 persen ke level 49.310,32.
Tekanan utama datang dari saham teknologi, terutama subsektor perangkat lunak yang mendadak kehilangan momentum. Saham IBM ambles lebih dari 8 persen, sedangkan ServiceNow terjun hampir 18 persen usai laporan kinerja kuartalan dirilis.
Kinerja IBM sebenarnya melampaui ekspektasi, namun keputusan mempertahankan proyeksi tahunan memicu kekecewaan investor. Di sisi lain, ServiceNow mengakui pertumbuhan pendapatan berlangganannya terhambat oleh konflik di Timur Tengah.
Aksi jual meluas. Saham Microsoft turun sekitar 4 persen, Palantir Technologies anjlok lebih dari 7 persen, dan Oracle melemah sekitar 6 persen. Bahkan, ETF sektor software iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) ikut merosot sekitar 6 persen.
Managing partner Barnum Financial Group’s The SKG Team, Chris Kampitsis, menilai pasar saat ini tengah “mencari pijakan” setelah reli tajam sejak Maret. Menurutnya, pergerakan indeks berpotensi cenderung sideways dalam waktu dekat, sambil menunggu katalis baru yang cukup kuat untuk menggerakkan arah pasar.
“Saham-saham sedang berupaya menemukan pijakan setelah rebound yang sangat kuat dari posisi terendah pada Maret,” ujar Chris.
“Kami memperkirakan pergerakan saham akan cenderung bergerak dalam rentang (sideways) dalam jangka pendek, seiring pasar menunggu katalis berikutnya,” paparnya.
Baca juga: Tensi AS-Iran Kembali Memanas, Wall Street Ditutup Melemah, Akhiri Reli 3 Pekan
Namun, perhatian investor kini kembali tertuju pada geopolitik. Konflik Iran yang sempat mereda, kini berubah menjadi tegang saat upaya gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran.
Kedua negara dilaporkan berebut kendali atas Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global. Bahkan telah menyita kapal-kapal komersial dalam beberapa hari terakhir.
Presiden Donald Trump memperkeras sikap. Ia memerintahkan Angkatan Laut untuk menembak dan menghancurkan setiap kapal yang mencoba menanam ranjau di kawasan tersebut.
“Tidak boleh ada keraguan,” tulisnya melalui Truth Social.
Baca juga: Wall Street Menguat Usai Selat Hormuz Dibuka, Indeks S&P Cetak Rekor
Ketegangan ini langsung tercermin pada pasar energi. Harga minyak Brent melonjak dan ditutup di atas 105 dollar AS per barrel, dipicu laporan bahwa Ketua Parlemen Iran mundur dari tim negosiasi, memunculkan kekhawatiran meningkatnya dominasi Garda Revolusi. Laporan tersebut belum terverifikasi secara independen.
Di Teheran, situasi juga dilaporkan memanas. Sistem pertahanan udara terdengar aktif menghadapi target yang dianggap ancaman, menurut laporan Reuters yang mengutip kantor berita Mehr. Aktivasi ini menambah sinyal eskalasi di lapangan.
Sebelumnya, Trump sempat menyebut bahwa perpanjangan gencatan senjata diperlukan karena pemerintahan Iran berada dalam kondisi terpecah. Pernyataan ini mempertegas bahwa faktor geopolitik masih menjadi variabel utama yang membayangi pasar global, dan untuk sementara, menahan laju reli Wall Street.

