

Market Analysis
Harga Emas dan Perak Menguat Setelah Trump Setujui Gencatan Senjata dengan Iran

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia melemah tipis pada akhir perdagangan Selasa (7/4/2026) waktu setempat atau Rabu (8/4/2026) pagi WIB, seiring investor menilai kembali risiko jangka pendek setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump setujui penangguhan serangan ke Iran selama dua pekan.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot meningkat 2,3 persen menjadi 4.811,66 dollar AS per ons.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS ditutup naik 3,3 persen ke level 4.840,20 dollar AS per ons.
Trump mengatakan, pihaknya telah menyetujui gencatan senjata selama dua pekan dan telah menerima proposal dari Iran yang menjadi dasar untuk negosiasi.
Keputusan ini diumumkan menyusul peringatan sebelumnya bahwa Iran harus membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi pembalasan dari AS.
Pedagang logam independen, Tai Wong, menilai kondisi ini sebagai reli pemulihan yang reaktif dan masih harus dicermati respons Iran.
"Masih harus dilihat apakah Iran akan mematuhinya. Untuk emas, rata-rata pergerakan 200 hari di 4.930 dollar AS dan kemudian 5.000 dollar AS akan menjadi rintangan utama. Demikian pula, 80-81 dollar AS adalah level penting untuk perak," ujar Wong.
Pakistan selaku mediator antara AS dan Iran, telah meminta perpanjangan dua pekan untuk memberi waktu bagi diplomasi untuk berjalan.
Dewan Keamanan Tertinggi Iran mengatakan negosiasi dengan AS akan dimulai pada Jumat (10/4/2026) di Islamabad, Pakistan.
Setelah Iran mengajukan proposalnya melalui Pakistan, meskipun pembicaraan tersebut tidak menandakan berakhirnya perang antara Iran dengan AS dan Israel.
Kenaikan harga energi dapat memicu inflasi dan mempersulit keputusan bank sentral mengenai pemotongan suku bunga acuan.
Pasar kini menantikan risalah rapat The Fed bulan Maret, yang dijadwalkan rilis pada Rabu (8/4/2026) waktu setempat.
Meskipun emas sering dianggap sebagai lindung nilai inflasi dan aset tempat berlindung yang aman selama masa-masa yang tidak pasti, daya tariknya cenderung melemah dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak menawarkan imbal hasil.
Menurut riset Bank Federal Reserve Dallas, gangguan berkepanjangan terhadap perdagangan minyak global dapat mendorong inflasi AS di atas 4 persen pada akhir tahun, dengan kemungkinan peningkatan yang lebih tajam dalam jangka pendek.
Emas, yang mengawali tahun ini dengan penguatan, telah jatuh lebih dari 8 persen sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari 2026.
Adapun untuk logam mulia lainnya turut bergerak menguat, dengan perak naik 4,3 persen menjadi 76,08 dollar AS per ons, platinum naik 2,4 persen ke level 2.004,95 dollar AS per ons, dan paladium bertambah 2,1 persen menjadi 1.500 dollar AS per ons.
