English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Ancaman Donald Trump Terbaru Atas Iran Buat Bursa Saham AS Turun

Bloomberg Technoz · 1 Views

Bloomberg Technoz, Indeks saham Amerika Serikat turun sementara harga minyak naik. Hal ini terjadi usai Presiden AS Donald Trump membuka peluang akan meningkatkan eskalasi perang di Iran secara signifikan.

Ancaman ini berpotensi memperburuk guncangan harga energi yang sudah mengguncang prospek ekonomi global. Indeks S&P 500 turun 0,4% saat perdagangan dimulai pada Senin. Minyak mentah Brent naik 1% menjadi US$110 per barel.

Trump kembali mengancam pada Minggu dini hari untuk menyerang infrastruktur Iran jika rute pengiriman energi utama melalui Selat Hormuz tetap ditutup. Trump kemudian menyusulnya dengan ancaman lain dengan berkata: “Selasa, pukul 20.00 Waktu Timur!” tanpa penjelasan lebih lanjut.

Omongan Trump tersebut muncul saat OPEC+ memperingatkan bahwa kerusakan pada aset energi di Timur Tengah akan berdampak jangka panjang pada pasokan minyak bahkan setelah konflik berakhir. Namun, tidak ada tanda-tanda kemajuan menuju gencatan senjata karena serangan terus meletus di seluruh wilayah, membuat harga minyak utama tetap berada jauh di atas US$100 per barel. 

“Apa yang bisa diprediksi tetap cukup rumit bagi para investor. Fokus investor akan sepenuhnya tertuju pada aksi militer di kedua sisi Teluk Persia dan apakah lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat membaik lebih lanjut meskipun terjadi serangan-serangan ini,” kata Homin Lee, seorang ahli strategi di Lombard Odier.

Upaya bursa saham AS bangkit di tengah konflik Perang ASvs Iran.

Dampak perang secara cepat memperburuk prospek ekonomi, berupa ancaman perlambatan pertumbuhan dan mendorong lonjakan inflasi. Hal ini sehingga memicu gejolak dalam spekulasi mengenai apakah Federal Reserve akan kembali menurunkan suku bunga pada akhir tahun ini. Perhatian tetap tertuju pada harga energi dan penutupan Selat Hormuz — jalur pelayaran yang sangat penting bagi aliran minyak dari Timur Tengah.

Ini akan menjadi minggu yang krusial bagi investor dengan laporan inflasi AS yang akan dirilis pada hari Jumat. Kenaikan harga bensin di pompa AS sekitar US$1 per galon kemungkinan mendorong indeks harga konsumen (IHK) bulan Maret naik 1%, kenaikan terbesar sejak lonjakan inflasi pasca-pandemi pada tahun 2022, menurut survei ekonom sebelum data tersebut dipublikasikan. 

Indeks S&P 500 baru saja mencatatkan kenaikan mingguan terbaik tahun ini, yaitu lonjakan 3,4% yang didorong oleh aksi short covering dan spekulasi awal pekan bahwa Trump siap untuk mulai mengakhiri operasi militer AS. Kenaikan tersebut membuat indeks hanya 5,7% di bawah rekor Januari. 

Namun pada Kamis, hari perdagangan terakhir pekan yang dipersingkat liburan, saham AS awalnya dibuka lebih rendah setelah pidato malam Trump di layar televisi memupus optimisme bahwa ia akan memaparkan jadwal yang jelas untuk mengakhiri perang.

Lantas, saham memulihkan kerugiannya setelah laporan bahwa Iran sedang berdiskusi dengan Oman mengenai cara menangani lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz. 

Meskipun demikian, minyak mentah jenis West Texas Intermediate ditutup di atas US$110, naik 11% pada hari Kamis, sementara patokan global Brent ditutup di dekat US$109.

 Pada hari Jumat, harga obligasi pemerintah AS turun setelah data ketenagakerjaan bulan Maret yang lebih baik dari perkiraan mendorong para pedagang untuk mengurangi spekulasi terkait pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Hal ini menandai perubahan dari sebagian besar pekan lalu, ketika harga obligasi naik seiring bergesernya fokus dari dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi ke spekulasi bahwa kenaikan biaya bagi konsumen dan pelaku usaha akan memperlambat laju pertumbuhan. 

Yield obligasi Treasury dua tahun naik empat basis poin menjadi 3,84%. AS menambahkan 178.000 lapangan kerja bulan lalu, lebih tinggi dari semua perkiraan dalam survei Bloomberg.

Konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah membuat harga minyak hanya sedikit di bawah level US$120 yang dicapai bulan lalu, seiring serangan terhadap aset energi kunci dan penutupan Selat Hormuz yang menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar, menurut Badan Energi Internasional (IEA).

Sementara itu, serangan yang terus berlanjut dari Republik Islam Iran merusak markas minyak Kuwait dan menutup pabrik petrokimia di Uni Emirat Arab.

Serangan bom yang terus berlanjut — di tambah tak ada progres nyata menuju negosiasi yang dapat mengakhiri konflik — telah menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik ini bisa berlarut-larut, meskipun Israel dan AS bersikeras bahwa tujuan utama mereka telah tercapai.

Trump sebelumnya telah meredam ancaman-ancaman eskalasinya, termasuk dua minggu lalu sebelum pasar dibuka kembali pada awal pekan. Trump juga mengatakan bahwa ia berencana menggelar konferensi pers pada pukul 13.00 waktu New York pada hari Senin.