

Market Analysis
Mengintip "Tabungan Minyak" Dunia, Negara Mana yang Punya Cadangan Terbesar?

KOMPAS.com - Ketika 32 negara mulai mengeluarkan cadangan minyak mereka untuk menstabilkan harga minyak yang kian mahal, Iran semakin mempertajam serangan di kawasan Selat Hormuz.
Anggota Badan Energi Internasional (IEA), yang merupakan gabungan negara pengguna energi terbesar di dunia setuju Rabu pekan lalu untuk melepas ratusan juta barrel minyak dari cadangan strategis mereka.
Namun langkah itu tidak membuat harga minyak turun, melainkan sebaliknya. Akhir pekan lalu harga minyak mentah Brent naik hingga sekitar 100 dollar AS per barrel.
Sementara itu Iran meningkatkan serangan di dekat Selat Hormuz, juga terhadap sejumlah kapal angkutan komersial termasuk tanker minyak dan kapal kargo.
Pemerintah Iran telah memblokade Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu. Padahal lewat selat tersebut negara-negara Teluk mengekspor seperlima minyak mentah dan gas, terutama ke Asia. Akibatnya lalulintas kapal kargo dan tanker terhenti.
Negara-negara produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait dan Uni Emirat Arab juga mengurangi produksi karena penyimpanan domestik mereka sendiri sudah mendekati kapasitas penuh, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas pasar energi.
Cadangan minyak strategis adalah simpanan minyak mentah yang dikuasai pemerintah dan digunakan jika pasokan tidak berjalan lancar atau untuk keadaan darurat pasar.
Penyimpanan modern pertama dibuat oleh AS tahun 1975, setelah embargo minyak Arab menunjukkan bagaimana rentannya suplai energi global.
Keterkejutan itu melipatgandakan harga minyak dan menyulut kurangnya bahan bakar di negara-negara Barat dan menyingkap kerentanan stabilitas ekonomi jika suplai menurun.
Sekarang, puluhan negara, terutama anggota IEA, memiliki simpanan strategis sebagai bagian sistem terkoordinasi untuk menjadi keamanan energi.
Anggota IEA memiliki cadangan lebih dari 1,2 miliar barrel, ditambah dengan sekitar 600 juta barrel yang dimiliki sektor industri.
Diperkirakan, China memiliki penyimpanan darurat terbesar, diikuti AS. Perusahaan analisa energi dan angkutan, Vortexa memperkirakan China memiliki simpanan 1,3 miliar barrel.
Cadangan tersebut diduga mampu menopang perekonomian China sampai tiga atau empat bulan.
