English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Konflik Iran-AS-Israel Picu Lonjakan Harga Emas dan Perak Dunia

Kompas · 1 Views

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu gejolak di pasar komoditas global.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan internasional dan mendorong investor beralih ke aset yang dianggap aman atau safe haven, seperti emas dan perak.

Perkembangan terbaru ini memicu lonjakan harga logam mulia di pasar global dan meningkatkan volatilitas di berbagai kelas aset, mulai dari energi hingga saham.

Harga emas dunia mendekati rekor terbaru

Harga emas dunia menunjukkan kenaikan signifikan setelah eskalasi konflik di Timur Tengah.

Dikutip dari Global Times, dalam perdagangan berjangka di Chicago Mercantile Exchange (CME), Minggu (1/3/2026), kontrak emas tercatat melonjak hingga 5.296,4 dollar AS per ons.

Dengan asumsi kurs Rp 16.800 per dollar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp 88,98 juta per ons.

Sebelum eskalasi konflik terbaru, harga emas sebenarnya sudah berada pada level tinggi. Rekor sebelumnya tercatat mendekati 5.608 dollar AS per ons atau sekitar Rp 94,21 juta per ons pada Januari 2026.

Kenaikan harga tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai ketika ketidakpastian global meningkat.

Analis pasar menyebut eskalasi konflik telah memperbesar premi risiko dalam perdagangan komoditas.Para analis menilai ketidakpastian geopolitik tersebut memperbesar premi risiko di pasar keuangan dan memicu pergeseran portofolio investasi menuju komoditas bernilai lindung nilai.

Yang Yang, seorang analis pasar, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang mendorong harga logam mulia.

“Peningkatan ketegangan geopolitik menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran telah meningkatkan premi risiko seiring dimulainya kembali perdagangan pada hari Senin," jelas Yang.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memicu pembukaan perdagangan yang melonjak pada awal pekan karena investor meningkatkan eksposur pada aset yang lebih aman.

Permintaan safe haven meningkat

Emas dan perak selama ini dikenal sebagai aset safe haven, yaitu instrumen investasi yang cenderung diburu investor ketika ketidakpastian meningkat.

Ketika risiko geopolitik meningkat, investor biasanya mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham dan beralih ke komoditas yang memiliki nilai intrinsik lebih stabil.

Analis pasar memperkirakan tren tersebut akan kembali terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Yang mengatakan, pasar global kemungkinan akan menunjukkan respons risk-off.

“Investasi safe-haven seperti emas dan perak berpotensi mengalami lonjakan harga ke atas saat pembukaan pasar," tuturnya.