

Market Analysis
Hacker Kini Incar Sistem AI Perusahaan, F5: Infrastruktur Tradisional Tidak Siap

Bisnis.com, JAKARTA — F5, perusahaan keamanan aplikasi dan multicloud asal AS, menemukan pergeseran pola serangan peretas yang kini lebih mengarah pada sistem kecerdasan artifisial (AI) di tingkat perusahaan. Infrastruktur keamanan tradisional dinilai tidak mampu mencegahnya.
Chief Product Officer F5 Kunal Anand mengatakan bahwa tata kelola enterprise tradisional saat ini tidak lagi mampu mengimbangi kecepatan perkembangan teknologi AI. Pasalnya, pola serangan turut berubah seiring dengan beralihnya perusahaan ke AI.
"Ketika kebijakan tertinggal dari adopsi, kebocoran data dan perilaku model yang tidak terduga akan terjadi. Organisasi membutuhkan pertahanan yang sama dinamisnya dengan model AI itu sendiri," ujar Kunal dikutip, Senin (9/2/2026).
Kunal menjelaskan bahwa saat ini perusahaan menghadapi risiko yang berubah cepat seiring percepatan adopsi AI untuk pengalaman pelanggan dan pengambilan keputusan krusial.
Dia menilai, organisasi tidak hanya menghadapi penyerang dari luar, tetapi juga risiko manipulasi model yang merugikan serta interaksi pengguna yang tidak terduga.
F5 menyoroti pergeseran paradigma keamanan dari yang tadinya dianalogikan hanya seperti "polisi tidur" kini harus menjadi "pagar pembatas jalan besar". Mekanisme lama yang hanya memperlambat proses dinilai gagal menangani tantangan unik saat model AI diterapkan pada data sensitif.
Melalui F5 AI Guardrails, perusahaan menghadirkan lapisan keamanan runtime yang bersifat model-agnostic. Teknologi ini mampu melindungi semua model AI dan aplikasi di seluruh cloud dengan memantau trafik secara real-time.
Sistem ini mengubah apa yang sebelumnya merupakan "black box” AI menjadi sistem yang transparan. Hal ini memungkinkan deteksi dini terhadap serangan seperti prompt injection dan jailbreak yang mencoba memanipulasi logika model.
Selain perlindungan aktif, F5 juga memperkenalkan F5 AI Red Team sebagai komponen ofensif yang proaktif. Solusi ini menghadirkan pengujian keamanan otomatis yang mensimulasikan berbagai vektor ancaman.
Data F5 mencatat adanya penambahan lebih dari 10.000 teknik serangan baru setiap bulannya seiring perkembangan ancaman di dunia nyata. AI Red Team bertugas menemukan area di mana model berpotensi memberikan output berbahaya sebelum sistem masuk ke lingkungan produksi.
Kombinasi kedua solusi ini menciptakan siklus umpan balik keamanan yang berkelanjutan. Wawasan yang dihasilkan dari pengujian Red Team diintegrasikan kembali secara langsung ke dalam kebijakan Guardrails.
Solusi ini juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi global. Kemampuan auditabilitas yang mendalam atas input dan output AI menjadi syarat mutlak bagi industri yang diawasi ketat, seperti sektor layanan keuangan dan kesehatan.
Saat ini, F5 AI Guardrails dan F5 AI Red Team telah diadopsi oleh sejumlah perusahaan global yang masuk dalam daftar Fortune 500.
"Pendekatan ini memungkinkan organisasi lebih berani menghadapi risiko dan mulai mengirimkan aplikasi serta fitur dengan percaya diri," tutup Kunal.
