English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Wall Street Melemah, Kekhawatiran Balik Modal Investasi AI Tekan Saham Teknologi

KOMPAS · 122.6K Views

JAKARTA, KOMPAS.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Kamis (29/1/2026), dengan saham-saham teknologi menjadi pusat tekanan.

Pelemahan paling dalam terjadi pada Nasdaq, di tengah meningkatnya keraguan investor terhadap efektivitas belanja masif kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dilakukan perusahaan teknologi global.

Mengutip Reuters, Jumat (30/1/2026), S&P 500 turun 10,41 poin atau 0,15 persen ke level 6.967,62. Nasdaq Composite merosot 179,39 poin atau 0,75 persen ke posisi 23.678,05. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average justru menguat tipis 21,05 poin atau 0,04 persen ke 49.036,65.

Tekanan pasar terutama datang dari saham Microsoft, yang anjlok setelah kinerja pendapatan bisnis cloud-nya meleset dari ekspektasi analis. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa investasi besar perusahaan dalam kemitraan AI, termasuk dengan OpenAI, belum mampu memberikan imbal hasil secepat yang diharapkan pasar.

Pelemahan Microsoft menjadi beban signifikan bagi S&P 500 dan menyeret saham-saham perangkat lunak lainnya. Saham SAP yang tercatat di AS melemah setelah perusahaan menyampaikan proyeksi bisnis cloud yang berhati-hati. Tekanan juga datang dari ServiceNow, yang sahamnya terpuruk menyusul laporan kinerja keuangan yang mengecewakan.

“Microsoft mengecewakan, dan ada kekhawatiran nyata bahwa investasi AI justru akan ‘memakan’ margin bisnis perusahaan perangkat lunak,” ujar Managing Director sekaligus Co-CIO Paleo Leon di Princeton, John Praveen.

Ia menilai investor kini cenderung mengurangi eksposur terhadap saham dan mengambil sikap defensif di tengah berbagai ketidakpastian global. Mulai dari siapa yang akan memimpin Federal Reserve ke depan, arah kebijakan suku bunga, hingga dinamika geopolitik dan potensi penutupan pemerintahan Amerika Serikat.

“Ada begitu banyak awan gelap di latar belakang,” kata Praveen.

Aksi jual juga menekan saham Salesforce, Oracle, Adobe, serta perusahaan keamanan cloud Datadog.

CEO dan CIO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, menilai kekhawatiran pasar terhadap saham-saham seperti ServiceNow dan Salesforce muncul karena AI berpotensi menggerus model bisnis mereka jika teknologi tersebut digunakan untuk menggantikan sebagian layanan inti.

“Terlepas dari apakah kekhawatiran itu benar atau tidak, saham-saham tersebut tetap terpukul cukup keras,” ujar Hatfield.

Di kelompok saham berkapitalisasi besar lainnya, saham Tesla berbalik melemah setelah produsen kendaraan listrik itu mengumumkan rencana untuk lebih dari menggandakan belanja modal ke level tertinggi sepanjang sejarah.

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sektor teknologi menjadi yang berkinerja terburuk. Sebaliknya, sektor layanan komunikasi mencatatkan penguatan, ditopang reli saham induk Facebook, Meta Platforms, yang menyampaikan proyeksi pendapatan optimistis seiring lonjakan belanja modal hingga 73 persen tahun ini.

Sentimen positif juga datang dari IBM, yang sahamnya menguat setelah laba kuartal keempat melampaui ekspektasi analis. Sektor energi ikut menguat tajam seiring lonjakan harga minyak, dengan kontrak berjangka Brent menyentuh level tertinggi hampir enam bulan di tengah meningkatnya kekhawatiran potensi konflik militer AS dengan Iran.

Dari sisi laporan keuangan, saham Caterpillar dan Mastercard menguat setelah membukukan laba kuartalan di atas perkiraan. Saham kontraktor pertahanan Lockheed Martin juga melonjak usai perusahaan memproyeksikan laba 2026 melampaui ekspektasi Wall Street.

Sementara itu, saham Southwest Airlines melesat setelah maskapai tersebut memperkirakan laba tahunan yang lebih kuat dari perkiraan analis, menjadikannya salah satu saham dengan kenaikan terbesar di S&P 500.