English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Dolar AS Berpotensi Catat Penurunan Mingguan Kedua pada Jumat (30/1/2026)

KONTAN · 481.5K Views

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan mencatat penurunan mingguan untuk dua pekan berturut-turut pada Jumat (30/1/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global yang menekan minat investor terhadap aset AS.

Tekanan terhadap dolar bertambah setelah Gedung Putih menyatakan Presiden Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang memungkinkan penerapan tarif terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba.

Kebijakan tersebut menambah daftar ketegangan geopolitik yang sebelumnya telah melibatkan Iran, Venezuela, Greenland, dan Eropa.

Laporan bahwa Trump tengah mempertimbangkan opsi serangan terhadap Iran turut memicu lonjakan harga minyak dan menekan indeks dolar (DXY).

Di sisi lain, sentimen domestik AS sempat mendapat angin segar setelah tercapai kesepakatan di Senat yang berpotensi mencegah penutupan sebagian pemerintahan (partial government shutdown).

“DXY melanjutkan tren pelemahannya, seiring ancaman aksi militer AS terhadap Iran yang menambah tekanan terhadap dolar,” tulis Ekonom Senior Westpac Group, Mantas Vanagas, dalam catatannya.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, naik tipis 0,2% ke level 96,35. Namun secara mingguan, indeks tersebut masih melemah sekitar 1,1%.

Di pasar mata uang utama, euro melemah 0,2% ke posisi US$1,194. Yen Jepang terdepresiasi 0,17% ke level 153,39 per dolar AS, sementara pound sterling turun 0,1% ke US$1,3791.

Dolar AS sempat menyentuh level terendah dalam empat tahun awal pekan ini, setelah Trump terkesan tidak terlalu mengkhawatirkan pelemahan mata uangnya.

Dolar kemudian sedikit pulih usai Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa Washington tetap menganut kebijakan dolar kuat.

Sejumlah sumber menyebutkan Trump tengah menimbang berbagai opsi terhadap Iran, termasuk serangan terbatas terhadap aparat keamanan dan tokoh-tokoh penting guna memicu tekanan domestik di negara tersebut.

Trump bahkan menggambarkan kehadiran militer AS di kawasan sebagai sebuah “armada” yang bergerak menuju Iran.