English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Harga Emas Naik Saat Ketegangan Geopolitik, Waktu Tepat Jual atau Beli?

Bisnis · 630.8K Views

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas kembali melonjak dan mencetak rekor tertinggi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Situasi ini kembali menegaskan peran emas sebagai aset safe haven, tempat investor “menyelamatkan” dana saat ketidakpastian meningkat.

Gejolak geopolitik global menjadi sentimen negatif yang membuat investor asing menarik dananya dari aset berisiko seperti saham, termasuk dari pasar Indonesia. Namun, di sisi lain, fundamental makro ekonomi nasional yang masih solid dinilai mampu menjadi bantalan tekanan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan kondisi fundamental ekonomi Indonesia dapat menjadi benteng pertahanan yang menahan aliran dana asing keluar saat kondisi global dipenuhi ketidakpastian.

"Seberapa jauh kita punya sentimen positif, fundamental kuat, sejauh itu pula kita bisa menghadapi tekanan dan volatilitas pasar yang disebabkan oleh sentimen global. Kalau kita kuat, adanya sentimen negatif tentu berpotensi ada pelemahan, tapi terbatas," kata Nico kepada Bisnis, Senin (26/1/2026).

Kenaikan harga emas di tengah konflik bukan tanpa alasan. Ada beberapa mekanisme utama yang bekerja bersamaan:

Harga emas kembali melonjak dan melanjutkan reli kuat di penghujung tahun, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, pelemahnya dolar Amerika Serikat, serta terbatasnya likuiditas pasar menjelang akhir tahun.

Dilansir Bloomberg, Sabtu (27/12/2025), harga spot emas sempat naik hingga 1,6% dan menembus puncak baru di atas US$4.540 per ons. Sepanjang 2025, harga emas telah naik sekitar 70% secara tahunan, mencatatkan kinerja terbaik sejak 1979.

Daya tarik emas sebagai aset safe haven menguat seiring eskalasi geopolitik global, mulai dari ketegangan di Venezuela setelah Amerika Serikat memblokade kapal tanker minyak, hingga serangan militer AS terhadap kelompok Islamic State di Nigeria.

Dari sisi makro, pelemahan dolar AS menjadi katalis tambahan. Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,7% sepanjang pekan atau menjadi penurunan terbesar sejak Juni 2025. Dalam kondisi pelemahan dolar, umumnya harga emas terkerek naik.

Di dalam negeri, harga emas Antam hari ini, Kamis (29/1/2026) melonjak Rp165.000 menjadi Rp3.168.000 per gram.

Harga buyback kini berada di level Rp2.999.000 per gram, naik Rp135.000.

Ada 5 faktor utama yang berpengaruh langsung terhadap pergerakan harga emas:

Di tengah lonjakan harga akibat ketegangan geopolitik, strategi investor perlu lebih hati-hati.

Harga emas yang sudah tinggi bisa menjadi momentum ambil untung (jual sebagian) karena selisih harga beli dan harga saat ini sudah lebar. Risiko menahan emas terlalu lama di level tinggi adalah potensi koreksi harga jika ketegangan geopolitik mereda, dolar AS kembali menguat, atau suku bunga global berubah arah. Dalam kondisi seperti itu, harga emas berpeluang turun dan keuntungan yang sudah terbentuk bisa tergerus.

Membeli emas saat harga berada di level tinggi memiliki risiko membeli di puncak harga. Jika terjadi koreksi, nilai investasi bisa langsung tertekan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali untung. Karena itu, strategi yang lebih aman adalah menunggu koreksi atau melakukan pembelian bertahap (averaging) agar risiko fluktuasi harga dapat ditekan.

Kesimpulannya, emas memang naik saat ketegangan geopolitik, tetapi keputusan jual atau beli tetap harus disesuaikan dengan tujuan investasi, harga beli sebelumnya, dan kondisi pasar yang terus berubah.