

Market Analysis
5 Tips Rencanakan Keuangan agar Lebih Sehat pada 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Perencanaan keuangan sangat dibutuhkan di tengah kondisi perekonomian yang belum pasti. Apalagi memasuki awal tahun, ketika orang mulai merancang bahkan memasang target yang akan dicapai pada tahun ini.
Tanpa perencanaan yang jelas, keuangan seseorang atau rumah tangga rentan terganggu, terutama ketika pengeluaran tidak terduga muncul di tengah keterbatasan pendapatan.
Perencanaan keuangan dapat memberikan arah yang jelas dalam mengelola penghasilan. Kebiasaan ini juga membantu membangun dana darurat dan menyiapkan perlindungan keuangan.
Faculty Head Sequis Quality Empowerment of Sequis Life, Yan Ardhianto Handoyo menyebut perencanaan keuangan perlu dimasukkan dalam resolusi Tahun Baru.
Menurut Yan, perencanaan keuangan harus dibuat terstruktur dan dimulai dengan langkah sederhana agar dapat dijalankan secara konsisten.
“Membuat perencanaan keuangan akan membantu Anda menyiapkan dana untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan menentukan tujuan masa depan beserta strategi pendanaannya,” tuturnya dalam keterangan tertulis, dikutip pada Minggu (4/1/2026).
Yan menyarankan agar bisa mencatat dan menghitung semua pemasukan serta pengeluaran, termasuk pengeluaran kecil, tetapi rutin. Misalnya, setiap hari membeli kopi, meski nilainya kecil, tetapi jika dilakukan setiap hari dapat menjadi penguluran yang signifikan.
Dia mengingatkan bahwa kondisi keuangan dipengaruhi oleh aset dan liabilitas. Seba b itu, perlu identifikasi menyeluruh untuk mengetahui posisi keuangan saat ini. Dari sini, bisa diputuskan mana yang harus diperbaiki atau diperkuat.
Setelah mengetahui posisi keuangan, tahap selanjutnya adalah menetapkan tujuan keuangan secara spesifik. Ini akan membantu mengukur kemampuan finansial dan mempermudah mengalokasikan dana ke instrumen keuangan yang tepat.
“Jika memiliki lebih dari satu tujuan keuangan maka buat perencanaan secara detail agar dapat menentukan prioritas,” sebut Yan.
Langkah penting selanjutnya adalah perlu konsistensi adalah menyusun anggaran. Hal ini perlu dilakukan konsisten supaya dapat mengendalikan pengeluaran dan tetap fokus pada pencapaian tujuan finansial.
Menurut Yan, metode 50/30/20 adalah panduan sederhana yang dapat digunakan untuk menyusun anggaran, yaitu kebutuhan pokok/keinginan/tabungan, investasi, dana darurat.
“Hindari utang konsumtif. Utang sebaiknya hanya untuk kebutuhan produktif, seperti KPR atau KPM, dengan total cicilan tidak melebihi 30% dari penghasilan,” tegasnya.
Yan menekankan mengandalkan pendapatan saja tidak cukup, mengingat kondisi ekonomi dan inflasi selalu berubah. Sebab demikian, aset perlu dikembangkan agar nilainya bertumbuh dan dapat diandalkan untuk mencapai tujuan finansial.
Mengembangkan aset bisa melalui instrumen investasi yang sesuai tujuan finansial dan mempertimbangkan profil risiko. Misalnya, untuk tujuan jangka pendek seperti pendidikan anak usia dini, aset dapat dikembangkan melalui deposito atau obligasi pemerintah.
“Sementara untuk tujuan jangka panjang, seperti membeli rumah dalam 10 tahun ke depan dengan profil risiko agresif maka dapat mempertimbangkan reksadana saham atau saham karena potensi pertumbuhannya lebih tinggi,” jelasnya.
Yan berpendapat dalam setiap tahapan perencanaan keuangan, akan selalu ada potensi risiko. Oleh karena itu, asuransi penting dimiliki untuk melindungi kondisi finansial dari hal-hal yang tidak terduga.
“Jika belum memiliki asuransi, akhir tahun menjadi momen yang tepat untuk memasukkan asuransi ke dalam perencanaan keuangan. Alokasikan minimal 10% dari penghasilan untuk proteksi,” ucapnya.

