

Market Analysis
Trump Melunak soal Greenland, Harga Emas di Pasar Spot Meredup

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas terkoreksi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya kerangka kesepakatan terkait Greenland dan mencabut ancaman tarif terhadap Eropa.
Melansir Bloomberg pada Kamis (22/1/2026) harga emas sempat turun 1,2% sebelum memangkas penurunannya menjadi US$4.791,53 per troy ounce, atau melemah 0,8%. Sebelumnya, logam mulia ini mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut yang membawanya menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$4.888 per ounce.
Trump mengumumkan adanya kerangka kesepakatan Greenland tersebut melalui media sosial usai bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte. Namun, dia tidak merinci lebih lanjut isi kesepakatan tersebut.
Sikap keras Trump terkait Greenland sebelumnya memicu krisis diplomatik dengan sekutu NATO di Eropa dan mengguncang pasar keuangan global, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Meski terkoreksi, harga emas masih menguat lebih dari 4% sepanjang pekan ini, seiring ketegangan geopolitik yang terus mendorong reli tajam dan mencetak rekor demi rekor dalam setahun terakhir.
"Ketidakstabilan terbaru ini mencerminkan senjataisasi komoditas, energi, dan rantai pasok oleh kekuatan dunia dominan," ujar Kepala Riset di pemurni logam mulia MKS Pamp SA, Nicky Shiels, dalam sebuah catatan.
Dia melanjutkan, kondisi tersebut tetap menjadi faktor pendukung bagi harga emas. Peningkatan risiko geopolitik juga dibarengi dengan kembali menguatnya tekanan pemerintahan Trump terhadap Federal Reserve (The Fed) AS, yang menggerus kepercayaan terhadap dolar dan menopang harga logam mulia.
Upaya Trump untuk memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook terkait tuduhan penipuan kredit perumahan yang belum terbukti menuai kekhawatiran dalam sidang Mahkamah Agung AS pada Rabu.
Para hakim menilai langkah tersebut berpotensi mengganggu independensi The Fed dan mengguncang pasar. Putusan pengadilan dijadwalkan keluar paling lambat Juli mendatang.
Goldman Sachs Group Inc. juga menaikkan proyeksi harga emas akhir tahun menjadi US$5.400 per ounce, dari perkiraan sebelumnya US$4.900. Kenaikan proyeksi ini didorong oleh permintaan yang semakin kuat dari investor swasta dan bank sentral.
Analis Goldman Sachs, termasuk Daan Struyven, dalam catatan bertanggal 21 Januari menyebutkan risiko pergerakan harga emas secara signifikan condong ke arah kenaikan seiring investor sektor swasta berpotensi melakukan diversifikasi lebih lanjut di tengah ketidakpastian kebijakan global yang berkepanjangan.
Sementara itu, harga perak kembali menguat dan diperdagangkan di atas US$93 per ounce setelah sempat turun hingga 2,3% pada perdagangan awal Kamis. Harga logam putih tersebut telah melonjak tiga kali lipat dalam setahun terakhir, didorong oleh fenomena short squeeze bersejarah dan gelombang pembelian investor ritel yang membuat bank serta pemurni logam kewalahan memenuhi lonjakan permintaan.
Kebingungan seputar pembaruan kebijakan China terkait izin ekspor turut memperkuat persepsi kelangkaan pasokan. Pasar juga masih diliputi kehati-hatian meskipun AS menahan diri untuk tidak memberlakukan tarif impor menyeluruh atas mineral kritis, termasuk perak dan platinum. Berdasarkan data terbaru, persediaan perak yang terdaftar di Comex masih berada pada level tinggi.

