

Market Analysis
Risiko Perang Tarif Mereda, Wall Street Melesat

NEW YORK, KOMPAS.com - Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street bangkit pada perdagangan Rabu (21/1/2026) waktu setempat, membalikkan pelemahan sehari sebelumnya.
Pasar merespons positif kabar tercapainya kerangka kesepakatan terkait Greenland yang sekaligus meredakan risiko penerapan tarif baru Amerika Serikat terhadap sekutu-sekutu Eropa.
Mengutip Reuters pada Kamis (22/1/2026), indeks Dow Jones Industrial Average (DJI) melonjak 588,64 poin atau 1,21 persen ke level 49.077,23.
Indeks S&P 500 (SPX) menguat 78,76 poin atau 1,16 persen menjadi 6.875,62, sementara Nasdaq Composite (IXIC) naik 270,50 poin atau 1,18 persen ke posisi 23.224,83.
Kenaikan tersebut menjadi salah satu penguatan harian terbesar bagi Dow Jones dan Nasdaq sejak masing-masing 5 Januari dan 19 Desember.
Pergerakan ini berbalik arah secara tajam dibandingkan sesi sebelumnya, yang justru mencatatkan kinerja harian terburuk bagi ketiga indeks acuan sejak 10 Oktober.
Reli Wall Street juga mencerminkan dinamika kebijakan Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya kerap menggunakan ancaman tarif sebagai alat negosiasi, sebelum kemudian melunakkan sikapnya setelah mengeklaim tercapainya kemenangan kebijakan.
“Kami telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan, sebenarnya, seluruh Wilayah Arktik,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
“Berdasarkan pemahaman ini, saya tidak akan memberlakukan tarif yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Februari,” tambahnya.
Indeks-indeks Wall Street sejatinya sudah bergerak di zona hijau sebelum pengumuman tersebut.
Namun, penguatan menjadi lebih agresif setelah pernyataan Trump dirilis, seiring investor menyambut baik terhindarnya potensi perang tarif baru yang sebelumnya membayangi pasar global.
Kepala strategi dan riset investasi di Glenmede, Jason Pride, menilai isu kepemilikan Greenland tidak memiliki dampak ekonomi langsung yang signifikan.
“Saya rasa siapa pun yang memiliki Greenland tidak memiliki dampak langsung pada apa pun, dalam hal ekonomi,” ujarnya. “Dampak ekonominya adalah apakah kita semua akan mulai memberlakukan tarif satu sama lain,” tambah Pride.
Sebelum kabar Greenland mencuat pada pertengahan sesi, Wall Street sudah cenderung menguat karena investor melakukan pembelian kembali setelah aksi jual besar-besaran pada Selasa.
Meski sempat terdorong lebih dari 1 persen pada awal perdagangan, momentum penguatan sempat melunak menjelang siang hari.

