English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Trump Tunda Tarif Mineral Kritis, Harga Perak Jeblok

Bisnis · 356.1K Views

Bisnis.com, JAKARTA — Harga perak terkoreksi tajam setelah reli kuat beberapa hari terakhir, dipicu aksi ambil untung investor dan keputusan Amerika Serikat menunda tarif impor mineral kritis.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (15/1/2026), harga logam putih tersebut sempat turun hingga 7,3% sebelum memangkas penurunannya di level US$87,7795 per ons atau terkoreksi 6%. Sebelumnya, perak mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$93,7515 per ons. 

Penurunan itu terjadi usai perak melonjak lebih dari 20% dalam empat sesi perdagangan sebelumnya.

Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menempuh perundingan bilateral guna memastikan kecukupan pasokan mineral kritis. Meski membuka opsi penetapan batas harga minimum, Trump belum menerapkan tarif impor. Kekhawatiran pasar terhadap potensi tarif sebelumnya mendorong sebagian pasokan, termasuk perak, tertahan di gudang-gudang AS. Hal itu memicu tekanan kelangkaan global sejak tahun lalu dan menopang harga hingga awal 2026.

Sepanjang tahun lalu, perak melesat hampir 150%, melampaui kinerja emas, seiring rotasi investor yang menilai emas telah menjadi terlalu mahal. Selain itu, perak juga diuntungkan oleh permintaan industri, terutama dari sektor energi surya yang menggunakan perak dalam panel. Dalam beberapa pekan terakhir, aksi beli spekulatif di China turut menambah momentum kenaikan harga.

Meski demikian, prospek jangka menengah perak dinilai tetap solid. 

“Narasi jangka menengah perak masih konstruktif, ditopang oleh defisit pasokan, konsumsi industri, serta limpahan permintaan dari emas,” ujar Christopher Wong, analis dari Oversea-Chinese Banking Group. 

Namun, dia mengingatkan bahwa kecepatan pergerakan harga belakangan ini menuntut kehati-hatian dalam jangka pendek.

Emas dan perak sebelumnya menjadi penerima manfaat dari gelombang masuk dana ke komoditas pekan ini, yang juga mendorong harga timah dan tembaga ke rekor tertinggi. 

Tekanan politik pemerintahan Trump terhadap Federal Reserve kembali mengangkat sentimen “sell America”, yang turut menopang harga aset komoditas. Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik, mulai dari langkah AS terhadap Venezuela hingga ancaman berulang terkait Greenland, hingga situasi Iran, ikut memperkuat permintaan aset lindung nilai.

Namun, pergerakan harga perak dalam beberapa pekan terakhir tergolong sangat volatil. Indikator volatilitas pasar, yakni 14-day exponential average true range, melonjak tajam, mengindikasikan fluktuasi harga yang ekstrem. Kondisi ini dinilai lebih dipengaruhi faktor teknikal ketimbang fundamental.

“Sebagian besar pergerakan yang terlihat di layar perdagangan mencerminkan arus paksa, dinamika margin, lindung nilai opsi, serta penutupan posisi short, bukan semata-mata mekanisme harga berbasis permintaan dan pasokan riil,” ujar Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank AS, melalui media sosial. 

Dia menambahkan, dalam kondisi seperti ini, level teknikal menjadi kurang andal dan pandangan makro yang tepat pun kerap kalah oleh gejolak jangka pendek.

Pelaku pasar sebelumnya mencermati hasil investigasi Departemen Perdagangan AS terkait potensi ancaman impor perak dan mineral kritis lainnya terhadap keamanan nasional.

Keputusan Trump untuk menahan tarif impor dinilai memberi sinyal pendekatan yang lebih selektif ke depan. 

“Langkah ini menunjukkan pemerintah akan mengambil pendekatan yang lebih presisi dalam kebijakan selanjutnya,” ujar Daniel Ghali, analis senior komoditas TD Securities. 

Menurutnya, kebijakan tersebut secara signifikan meredakan kekhawatiran pasar terhadap penerapan tarif menyeluruh yang berpotensi mengganggu harga acuan logam global.