

Market Analysis
Bursa Asia Berpeluang Menguat, Pasar Pantau Gejolak Iran

Bloomberg Technoz, Bursa saham Asia diprediksi akan dibuka menguat pada perdagangan Senin pagi (12/1), mengikuti jejak Wall Street yang mencetak rekor tertinggi pada akhir pekan lalu berkat rilis data tenaga kerja AS. Di sisi lain, perhatian investor kini tertuju pada lonjakan harga minyak seiring memanasnya aksi protes di Iran.
Kontrak berjangka (futures) indeks saham Australia dan Hong Kong menunjukkan sinyal positif, mengambil momentum dari indeks S&P 500 yang ditutup naik 0,6% ke level puncak baru pada Jumat lalu. Indeks Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi bahkan menguat 1%. Sementara itu, pasar Jepang tutup hari ini karena libur nasional, sehingga perdagangan obligasi AS (Treasury) ditiadakan di wilayah Asia.
Sentimen positif ini dipicu oleh data ketenagakerjaan AS yang dianggap jinak. Meskipun jumlah lapangan kerja baru sedikit di bawah ekspektasi, tingkat pengangguran turun tipis ke level 4,4%.Selain itu, keputusan Mahkamah Agung AS yang belum memberikan putusan terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump memberikan napas lega bagi pasar. Absennya putusan tersebut untuk sementara waktu menghilangkan hambatan bagi penguatan ekuitas global.

Grafik pergerakan minyak. (Sumber: Bloomberg)
Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak bervariasi terhadap mata uang negara maju pada perdagangan awal Asia. Dolar menguat terhadap dolar Australia dan stabil terhadap euro. Sepanjang pekan lalu, dolar mencatat kinerja mingguan terbaik sejak November.
Pergerakan tersebut menegaskan ketenangan yang rapuh di pasar global, di tengah ketidakpastian geopolitik dari Caracas hingga Teheran, berlanjutnya pertanyaan terkait kebijakan tarif Washington, serta munculnya tanda-tanda bahwa dominasi saham teknologi berkapitalisasi besar di AS mulai memudar.
Harga minyak mencatatkan rentetan kenaikan mingguan terpanjang sejak Juni lalu. Kondisi ini dipicu oleh tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstran yang kian intens di seluruh negeri. Kerusuhan ini membuka peluang terjadinya perubahan rezim yang dapat mengubah peta geopolitik dunia dan pasar energi secara drastis. Trump mengancam akan mengambil langkah balasan jika demonstran menjadi sasaran, sementara Teheran memperingatkan AS dan Israel agar tidak melakukan intervensi.
“Situasi di Iran tampaknya membawa negara itu ke ambang kehancuran. Tingkat ketidakpastian di begitu banyak titik panas geopolitik kini mencapai level yang belum terlihat sejak akhir 1930-an,” kata Matt Maley, kepala analis strategi pasar di Miller Tabak + Co, dalam catatan kepada klien. “Sungguh mengejutkan betapa besar rasa puas diri yang masih ada di pasar saham global saat ini.”
Di Asia, data yang dijadwalkan rilis mencakup angka ekspor dan impor Korea Selatan, belanja rumah tangga Australia, serta inflasi India.
Di tempat lain, para menteri keuangan negara Kelompok Tujuh (G-7) akan bertemu di Washington pada Senin untuk membahas logam tanah jarang. Gubernur Federal Reserve Bank of New York John Williams dan Gubernur Fed Atlanta Raphael Bostic juga dijadwalkan menyampaikan pernyataan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ditutup relatif stabil pada sesi Jumat, dengan data ketenagakerjaan menjaga ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve. Di Jepang, obligasi pemerintah diperdagangkan pada level imbal hasil yang secara historis tinggi, seiring investor menghadapi lonjakan bersih pasokan terbesar dalam lebih dari satu dekade.
