English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Harga Minyak Global Memanas, Pasar Cermati Dampak Penangkapan Maduro

Bisnis · 81.5K Views

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak mentah dunia naik seiring dengan sikap pasar yang mencerna potensi dampak aksi Amerika Serikat (AS) terhadap aliran minyak dari Venezuela, menyusul penangkapan Presiden Nicolás Maduro.

Melansir Reuters pada Selasa (6/1/2026), harga minyak berjangka jenis Brent terpantau naik US$1,01 atau 1,66% menjadi US$61,76 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$1 atau 1,74%, ke level US$58,32 per barel.

Kedua harga minyak acuan tersebut sempat naik lebih dari US$1 setelah melemah lebih dari US$1 dalam sesi perdagangan yang fluktuatif, seiring investor mencerna kabar penangkapan Maduro dan pengambilalihan kendali negara OPEC tersebut oleh Washington. 

Sebelumnya, ekspor minyak Venezuela berada di bawah embargo AS yang masih berlaku.

“Yang belum diketahui pasar minyak adalah bagaimana aliran minyak dari Venezuela akan berubah akibat tindakan AS,” kata analis Aegis Hedging dalam catatan riset.

Pemerintahan Presiden AS Trump tidak berkonsultasi dengan perusahaan minyak seperti Exxon Mobil, ConocoPhillips, atau Chevron sebelum maupun setelah penangkapan Maduro, menurut empat eksekutif industri minyak yang mengetahui hal ini. Namun, pertemuan dengan perusahaan-perusahaan tersebut direncanakan berlangsung akhir pekan ini.

“Saya rasa tidak ada perusahaan selain Chevron yang sudah beroperasi di sana yang akan berkomitmen untuk mengembangkan sumber daya ini,” kata salah satu eksekutif tersebut.

Produksi minyak Venezuela telah merosot dalam beberapa dekade terakhir, tertekan oleh salah kelola dan minimnya investasi asing setelah nasionalisasi operasi minyak pada 2000-an. Produksi rata-rata tahun lalu mencapai sekitar 1 juta barel per hari, setara dengan sekitar 1% dari produksi global.

Presiden sementara Venezuela menawarkan kerja sama dengan AS pada Minggu lalu.

“Saya memperkirakan serangan laut dan blokade akan dicabut dan, pada akhirnya, sanksi akan dihapus, sehingga sebagian besar, jika tidak seluruh, minyak Venezuela yang terkatung di laut dan penyimpanan berikat dapat tersedia untuk pasar,” kata Simon Wong, manajer portofolio Gabelli Funds.

Dia menambahkan, butuh waktu bagi Venezuela untuk meningkatkan produksinya.

Sejak awal tahun, sekitar selusin kapal tanker bermuatan minyak dan bahan bakar meninggalkan perairan Venezuela, tampaknya menentang blokade ekspor AS, menurut dokumen yang dilihat Reuters dan sumber industri, termasuk layanan pemantauan TankerTrackers.com.

Presiden AS Donald Trump juga menyinggung kemungkinan intervensi lebih lanjut, termasuk terhadap Kolombia dan Meksiko jika aliran narkoba ilegal tidak dikurangi.

Para analis juga menunggu respons Iran terhadap ancaman Trump yang berpotensi campur tangan dalam penindakan protes di negara produsen OPEC tersebut.

“Jelas risiko geopolitik kini lebih tinggi. Risiko perubahan rezim yang didukung AS di Kolombia atau bahkan Iran masih rendah, tapi meningkat," ujar manajer portofolio Catalyst Energy Infrastructure Fund, Simon Lack, dalam catatan risetnya.

Di sisi lain, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya memutuskan untuk mempertahankan produksi pada Minggu (4/1/2026) lalu.