English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Selasa, 6 Januari 2026

Bisnis · 147.8K Views

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini Selasa, (6/1/2026) diramal berfluktuasi dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 16.740–Rp 16.770 per dolar AS. 

Pada perdagangan kemarin (5/1), rupiah tercatat melemah 15 poin. Mata uang Garuda sempat tertekan hingga 35 poin ke level Rp16.740 dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp16.725 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah kemarin tidak lepas dari kombinasi sentimen eksternal dan internal. Dari sisi global, pasar keuangan dihadapkan pada meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa Nicolás Maduro ditahan dalam operasi penggerebekan di Caracas, lalu diterbangkan ke AS untuk menghadapi tuduhan kriminal.

Langkah tersebut disebut sebagai intervensi paling langsung AS di Venezuela dalam beberapa dekade. Peristiwa ini memicu reaksi sejumlah negara dan membuat pelaku pasar mencermati potensi dampaknya terhadap pasar energi dan stabilitas kawasan.

Presiden Donald Trump menyebut penangkapan Maduro sebagai “langkah menentukan” terhadap rezim yang ia anggap kriminal. Ia juga menegaskan komitmen AS memastikan “transisi yang aman dan tertib” di Venezuela, sekaligus mengancam tindakan terhadap negara lain yang berseberangan dengan kebijakan AS, termasuk Kolombia dan Iran. Trump bahkan kembali menyuarakan gagasan pengambilalihan Greenland oleh AS."

Analis memperingatkan bahwa kebijakan Amerika berpotensi menjadi preseden bagi negara adidaya lain, seperti China dan Rusia.

Dari Asia, pasar juga mencermati rencana tambahan stimulus dari Beijing. Pemerintah Tiongkok mengumumkan program senilai 62,5 miliar yuan untuk memperpanjang subsidi barang elektronik konsumen dan sejumlah komoditas lain guna mendorong belanja rumah tangga.

Dari dalam negeri, pergerakan rupiah dipengaruhi laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatat surplus sebesar US$2,66 miliar. Dengan capaian ini, Indonesia membukukan surplus selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Ekspor pada November 2025 tercatat US$22,52 miliar, turun 6,6% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Penurunan terutama terjadi pada komoditas nonmigas, seperti bahan bakar mineral, lemak nabati, serta besi dan baja.

Sementara itu, impor November 2025 mencapai US$19,86 miliar atau turun 0,46% secara tahunan. Surplus perdagangan terutama ditopang oleh komoditas nonmigas dengan nilai US$4,64 miliar.

Meski masih positif, surplus perdagangan diperkirakan berpotensi menyempit pada 2026. Konsensus ekonom sebelumnya memperkirakan surplus masih berlanjut pada November 2025, namun dengan ruang yang lebih terbatas dibanding periode sebelumnya.

Menurut Ibrahim, kombinasi ketidakpastian geopolitik global dan ekspektasi atas kinerja neraca perdagangan ke depan membuat rupiah bergerak sensitif terhadap perubahan sentimen pasar atas nilai tukar rupiah.