

Market Analysis
Harga Minyak Mendaki, Pasar Pertimbangkan Dampak Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia bergerak ke zona hijau pagi ini, Senin, 5 Januari 2025 pukul 08.27 WIB setelah fluktuatif seiring pasar menimbang dampak penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat terhadap pasokan minyak global dan stabilitas sektor energi negara tersebut.
Pada awal perdagangan, harga minyak Brent sempat turun sekitar 1,2% sebelum berbalik pulih dan diperdagangkan di kisaran 61 dollar AS per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar 57 dollar AS per barel.
Sementara pada pukul 08.27 WIB, harga Brent menguat ke US$61,12 atau melonjak 0.59%. Sementara itu, minyak WTI jadi US$57,60 alias menguat 0,49%.
Bloomberg melaporkan meskipun gejolak politik terjadi di Venezuela, kontribusi negara anggota OPEC tersebut terhadap pasokan global kini relatif kecil. Produksi minyak Venezuela telah merosot dalam dua dekade terakhir dan kini mewakili kurang dari 1% dari suplai global, dengan sebagian besar diekspor ke China. Pasar minyak saat ini juga masih menghadapi surplus pasokan akibat peningkatan produksi dari sejumlah negara di tengah melemahnya permintaan.
Dalam catatan risetnya, Capital Economics menilai gangguan jangka pendek pada produksi Venezuela berpotensi mudah diimbangi dari peningkatan produksi negara lain. Pertumbuhan pasokan global selama setahun ke depan bahkan diperkirakan dapat menekan harga minyak menuju US$50 dollar AS per barel.
Di sisi kebijakan, OPEC+ tetap pada rencana menghentikan sementara penambahan pasokan pada kuartal pertama tahun ini. Kelompok yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia tersebut tidak secara khusus membahas situasi Venezuela, karena dinilai masih terlalu dini untuk menentukan respons.
Meski terjadi serangan AS, infrastruktur utama migas Venezuela termasuk pelabuhan Jose, kilang Amuay, dan area produksi Sabuk Orinoco dilaporkan tidak terdampak. Namun tekanan AS, termasuk penyitaan kapal tanker, telah memaksa penghentian sementara sejumlah sumur. Sanksi terhadap industri minyak Venezuela dinyatakan tetap berlaku, sementara rencana keterlibatan perusahaan AS untuk membantu pemulihan dinilai membutuhkan proses panjang.
Sejumlah analis menilai, faktor surplus pasokan masih menjadi penentu utama pergerakan harga minyak dibandingkan risiko geopolitik. Sementara itu, ketegangan diplomatik berlanjut setelah Amerika Serikat menyatakan akan menggunakan pengaruhnya untuk mendorong perubahan lebih lanjut di Venezuela, yang memicu respons keras dari pemerintah Caracas.

