English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Harga Minyak Dunia Bersiap untuk Koreksi Terdalam sejak 2020, Ada Apa?

Bisnis · 116.5K Views

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia menuju ke penurunan terdalam secara tahunan sejak masa pandemi pada 2020 imbas kekhawatiran kelebihan pasokan, yang diproyeksi mendominasi sentimen pasar dan perdagangan hingga tahun baru.

Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (31/12/2025), harga acuan West Texas Intermediate berada di bawah US$58 per barel, turun dalam lima bulan berturut-turut atau terkoreksi hampir 20% tahun ini. 

Sementara, harga minyak Brent untuk kontrak Maret ditutup melemah 0,3% ke US$61,33 per barel. Perhatian pasar dalam jangka menengah terfokuskan ke pertemuan OPEC+ yang akan datang, rilis data industri AS, dan tensi konflik geopolitik.

Harga minyak mentah telah merosot tahun ini karena pasokan meningkat dari OPEC+ dan para pesaingnya, sementara pertumbuhan permintaan dunia melambat. 

Para pengamat terkemuka, termasuk Badan Energi Internasional, memperkirakan kelebihan pasokan yang besar tahun depan, dan bahkan sekretariat OPE, yang biasanya lebih optimistis daripada yang lain, memproyeksikan surplus yang moderat.

Anggota OPEC+ dijadwalkan bertemu melalui konferensi video pada 4 Januari 2026 dan diperkirakan tetap berpegang pada rencana untuk menghentikan peningkatan pasokan lebih lanjut di tengah bukti yang semakin kuat tentang surplus, menurut tiga delegasi.

Sebelum itu, American Petroleum Institute (API) yang didukung industri melaporkan persediaan minyak mentah meningkat 1,7 juta barel minggu lalu. Itu akan menjadi peningkatan terbesar sejak pertengahan November 2025, jika dikonfirmasi oleh data resmi pada Rabu malam. API juga melihat peningkatan persediaan bensin dan distilat.

Di tengah ketegangan geopolitik, Uni Emirat Arab mengatakan akan menarik pasukan dari Yaman menyusul peningkatan ketegangan dengan sekutu Teluknya, Arab Saudi, terkait operasi militer di negara yang dilanda konflik tersebut. Arab Saudi dan UEA sama-sama merupakan anggota penting OPEC.

Di tempat lain, pasar memantau aksi blokade sebagian pengiriman minyak mentah dari Venezuela oleh AS. Presiden Donald Trump telah mengungkapkan serangan rahasia AS terhadap apa yang disebutnya sebagai fasilitas perdagangan narkoba, yang menimbulkan pertanyaan baru tentang seberapa jauh Washington bersedia menekan rezim Nicolas Maduro.