

Market Analysis
Bursa Asia Siap Menghijau Usai Wall Street Tembus Rekor Tertinggi

Toby Alder - Bloomberg News
Bloomberg Technoz, Bursa saham Asia diperkirakan akan mengekor kenaikan saham AS, setelah reli yang dipimpin sektor teknologi mendorong Wall Street ke rekor tertinggi dan data menunjukkan ekonomi tumbuh dengan laju tercepat dalam dua tahun. Emas dan perak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.
Kontrak berjangka indeks saham mengindikasikan penguatan pada pembukaan pasar di Hong Kong dan Jepang pada Rabu (24/12/2025), sementara indeks berjangka saham Australia mengalami sedikit penurunan.
Indeks S&P 500 naik selama empat hari beruntun, di mana indeks saham teknologi besar melesat sekitar 1% di tengah volume perdagangan yang rendah menjelang libur Natal. Obligasi jangka pendek berkinerja buruk. Dolar AS melemah.Pergerakan ini mencerminkan minat risiko yang tangguh menjelang akhir tahun. Investor lebih memilih saham teknologi, meski data pertumbuhan ekonomi AS yang kuat meredam ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Hal ini juga memperkuat keyakinan bahwa laba perusahaan akan terus berkembang pesat pada 2026.
"Jika konsumen tetap tangguh selama liburan dan kuartal keempat, hal ini akan berdampak positif bagi PDB [Produk Domestik Bruto] AS dan laba perusahaan," kata Bret Kenwell dari eToro. "Laba terus mengejutkan ke arah positif. Para investor bullish berharap tren ini akan berlanjut pada 2026."
Harga komoditas juga menguat. Emas dan perak melonjak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, sementara harga tembaga melampaui US$12.000 per ton untuk kali pertama. Daya tarik emas sebagai aset safe-haven semakin meningkat dalam sepekan terakhir akibat blokade Washington terhadap kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela.
PDB AS yang disesuaikan dengan inflasi meroket sebesar 4,3% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dari semua perkiraan dalam survei Bloomberg kecuali satu, dan menyusul pertumbuhan 3,8% pada periode sebelumnya.
Imbal hasil obligasi Treasury dua tahun, yang lebih sensitif terhadap langkah-langkah The Fed yang akan datang, tetap di atas 3,5%.
Donald Trump mengharapkan Gubernur The Fed pilihannya akan menurunkan suku bunga jika pasar berkinerja baik. Sinyal terbaru bahwa Trump menginginkan calon yang berkomitmen untuk memangkas biaya pinjaman menjelang pengumuman pengganti Jerome Powell.
Sementara itu, Menteri Keuangan Scott Bessent mendukung gagasan untuk mempertimbangkan kembali target inflasi 2% The Fed setelah AS secara berkelanjutan menurunkan kenaikan harga kembali ke tingkat tersebut.
Pasar uang memperkirakan peluang kurang dari 20% bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada Januari.
"Ekonomi menunjukkan skenario Goldilocks dengan pertumbuhan ekonomi AS di atas potensi, dan inflasi yang menurun tetapi tetap tinggi, serta pasar tenaga kerja yang kurang kuat," papar Eric Teal dari Comerica Wealth Management.
"The Fed kemungkinan akan mempertahankan bias dovish, yang hanya akan semakin kuat dengan Gubernur The Fed baru tahun depan."
Secara terpisah, AS menunda menerapkan tarif tambahan pada impor cip setidaknya hingga pertengahan 2027. Pertanda bahwa pemerintahan Trump berusaha menstabilkan hubungan dengan Beijing.
Di Asia lainnya, bank sentral India mengumumkan langkah-langkah baru untuk meningkatkan likuiditas perbankan melalui pembelian obligasi pemerintah dan swap valuta asing. Langka ini diharapkan dapat mendukung pelemahan rupee, yang telah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini.
