

Market Analysis
Kurs Dolar AS Bergeming Meski Data Inflasi Turun Tajam

Indeks Dolar AS (DXY) stabil pada kisaran 98.30-an dalam perdagangan sesi New York hari Kamis ini (18/12/2025). Rilis data inflasi Amerika Serikat menunjukkan penurunan yang lebih cepat dari perkiraan konsensus, tetapi masih jauh lebih tinggi dibandingkan target bank sentral. Para ekonom juga mempertanyakan reliabilitas data-data tersebut.
US Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan laju inflasi Amerika Serikat mencapai 2.7% saja pada bulan November 2025, padahal konsensus sebelumnya memperkirakan kenaikan dari 3.0% menjadi 3.1%. Data inflasi inti juga melambat tajam dari 3.0% menjadi 2.6% dalam rentang waktu yang sama.
Perlambatan inflasi biasanya mendukung ekspektasi penurunan suku bunga, sehingga mendorong pelemahan nilai tukar mata uang. Namun, perlambatan inflasi AS kali ini tidak berdampak besar terhadap Dolar AS.
Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa perlambatan inflasi AS pada bulan November kemungkinan berkaitan dengan distorsi data ekonomi saat government shutdown. Oleh karena itu, sebaiknya jangan menganggapnya terlalu serius.
Laporan BLS tersebut hanya mencakup sedikit sekali data untuk bulan Oktober, karena aktivitas penghimpunan data pada periode tersebut terhenti gegara shutdown. Padahal, banyak data bulan November tidak dapat diperhitungkan secara akurat tanpa kehadiran data periode sebelumnya.
“Sulit untuk menafsirkan terlalu banyak dari data inflasi November. Penutupan kantor pemerintahan jelas berdampak besar pada pengumpulan data,” tulis Heather Long, kepala ekonom di Navy Federal Credit Union, dalam sebuah catatan pada hari Kamis. “Inflasi tidak tiba-tiba membaik secara signifikan antara bulan September dan November. Siapa pun yang pernah ke toko bahan makanan atau membayar tagihan utilitas (tentu) mengetahuinya.”
“Itu adalah laporan yang cacat,” kata Joe Brusuelas, kepala ekonom RSM US, yang menunjukkan absensi data perubahan harga sewa. “Karena penutupan pemerintahan, BLS tidak memiliki sumber daya atau waktu untuk melakukan laporan lengkap. (Data inflasi) itu tidak terlihat atau terasa benar. Itu tidak masuk akal.”
Seiring dengan beraneka keraguan tersebut, pelaku pasar waswas menunggu rilis data inflasi yang akan datang. Apabila penurunan inflasi bulan ini benar-benar anomali, datanya kemungkinan melonjak pada pelaporan berikutnya.

