

Market Analysis
Euro Tersentak Sejenak Oleh Data Inflasi Hari Ini

Kurs EUR/USD sempat tersungkur sampai 1.1703 dalam perdagangan sesi Eropa hari Rabu (17/12/2025) gara-gara rilis data inflasi yang mengecewakan. Namun, Euro langsung memantul kembali ke 1.1757 saat memasuki sesi New York. Euro juga tetap unggul versus Yen dan Pound Sterling.
Eurostat melaporkan indeks harga konsumen meningkat 2.1 persen saja secara tahunan pada bulan November 2025. Padahal, konsensus sebelumnya memperkirakan angkanya stabil pada 2.2 persen. Kelompok barang umum dan inti sama-sama mengalami penurunan harga-harga secara bulanan, masing-masing tercatat -0.3 persen dan -0.5 persen.
Banyak sekali angka yang merah dalam laporan inflasi kali ini, sehingga aksi jual sontak melanda Euro. Kendati demikian, data-data sebenarnya tidak membawa konsekuensi baru apa pun.
Para petinggi European Central Bank (ECB) minggu lalu telah mengisyaratkan akan mempertahankan tingkat suku bunga saat ini karena inflasi telah bergerak menuju target 2 persen. Dengan kata lain, perlambatan inflasi kali ini sampai 2.1 persen saja tidak cukup signifikan untuk mendesak perubahan kebijakan ECB.
Perbandingan antara inflasi Zona Euro dengan kawasan lainnya juga menunjukkan bahwa angka-angkanya masih relatif terkendali. Contohnya, Inggris tadi sore mengumumkan perlambatan inflasi tahunan dari 3.6 persen menjadi 3.2 persen. Sementara ECB kemungkinan tidak mengubah kebijakannya, data Inggris melahirkan spekulasi penurunan suku bunga setempat sampai beberapa kali lagi.
Kit Juckes, kepala analis forex di Societe Generale, mengungkapkan bahwa GBP kehilangan “support”, terutama terhadap Euro. Katanya, “Saya bisa membayangkan pasar memperhitungkan pemotongan suku bunga (BoE) pada Maret atau April, lalu pada Juni atau Juli, kemungkinan menyeret EUR/GBP sampai 0.90 dalam prosesnya. Hal ini tidak jauh lagi.”
Pelaku pasar berikutnya akan memantau rilis data inflasi Amerika Serikat besok. Hasilnya dapat berpengaruh terhadap semua pasangan mata uang mayor, termasuk EUR/USD.
Duet EUR/USD kemarin telah mencapai rekor tertinggi sejak 24 September di atas ambang 1.1800. Euro langsung surut kembali ke 1.1750-an dalam hari yang sama, tetapi banyak pakar tetap mengharapkan masa depan yang bullish untuk sang Mata Uang Tunggal pada tahun 2026. Proyeksi bullish Euro berkaitan dengan perkiraan akan berlanjutnya kemunduran ekonomi AS dan penurunan suku bunga Federal Reserve.

