English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Ekspor Jepang Bangkit Usai 8 Bulan Terpuruk, BOJ Makin Dekat Kerek Suku Bunga

Bisnis · 125.6K Views

Bisnis.com, JAKARTA – Ekspor Jepang tumbuh untuk pertama kalinya dalam delapan bulan pada November 2025, didorong kenaikan pengiriman ke Amerika Serikat. Catatan ini memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ) pekan ini.

Data Kementerian Keuangan Jepang yang dilansir dari Bloomberg pada Rabu 17/12/2025) mencatat, total ekspor naik 6,1% secara year on year (yoy) pada November, didorong oleh komponen semikonduktor dan produk medis. Capaian tersebut melampaui perkiraan ekonom, seiring lonjakan pengiriman ke AS dan Uni Eropa masing-masing sebesar 8,8% dan 19,6%.

Kenaikan ekspor ke AS menjadi sentimen positif bagi BOJ, yang secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi sejak 1995. Ketidakpastian terkait tarif AS sempat menahan bank sentral untuk kembali mengetatkan kebijakan sejak Januari. 

Namun, sinyal dari para pejabat puncak BOJ membuat pelaku pasar pada umumnya telah memperhitungkan kenaikan biaya pinjaman tersebut.

“Saya melihat dampak tarif AS pada dasarnya sudah mereda. Pengiriman ke AS meningkat baik dari sisi nilai maupun volume, seiring perusahaan melanjutkan ekspor setelah ketidakpastian tarif mereda,” ujar ekonom Daiwa Securities Yutaro Suzuki.

Di sisi lain, data yang dirilis Rabu menunjukkan ekspor Jepang ke China turun 2,4%, dipimpin oleh penurunan mesin pembuat chip dan logam non-besi. 

Perdagangan dengan Beijing dibayangi ketidakjelasan setelah sengketa diplomatik mencuat bulan lalu menyusul komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait skenario kontinjensi Taiwan. Ketegangan tersebut diikuti sejumlah langkah, termasuk peringatan China terhadap perjalanan ke Jepang.

Suzuki menyebut dampak negatif dari memburuknya hubungan Jepang–China tidak akan tercermin signifikan dalam perdagangan ke depan. Menurutnya, ekspor Jepang ke China kemungkinan lebih banyak bergerak sejalan dengan fundamental ekonomi Negeri Tirai Bambu. 

Investasi China tercatat kembali melemah pada November, sementara pertumbuhan penjualan ritel melambat ke laju terendah sejak guncangan akibat Covid-19, menandakan tekanan deflasi yang berlanjut.

Secara keseluruhan, neraca perdagangan Jepang mencatat surplus secara nominal sebesar ¥322,3 miliar (US$2,1 miliar). Impor naik 1,3%, sedikit di bawah konsensus pasar.

Surplus perdagangan Jepang terhadap AS mencapai ¥739,8 miliar, meningkat 11,3% dibandingkan setahun sebelumnya. Neraca tersebut terus surplus sejak Presiden AS Donald Trump memulai masa jabatan keduanya pada Januari, menandakan ketimpangan perdagangan masih bertahan meski Washington berupaya menutup defisit melalui tarif yang lebih tinggi.

Ekspor mobil dan suku cadang Jepang ke AS meningkat pada November setelah Washington memangkas tarif menjadi 15% dari sebelumnya 27,5% pada pertengahan September. Tarif yang sama juga diterapkan pada sejumlah produk lain.

Nilai pengiriman mobil ke AS naik 1,5%, sementara jumlah unit yang diekspor melonjak 7,7%. Perbedaan tersebut mencerminkan pola berkelanjutan bahwa produsen otomotif Jepang menekan harga dan margin untuk mempertahankan pangsa pasar.

Meski demikian, harga rata-rata unit mobil Jepang yang dikirim ke AS bulan lalu berada di kisaran ¥4,08 juta, relatif sama dengan level April saat tarif Trump pertama kali diumumkan.

AS dan Jepang juga disebut akan meninjau proyek-proyek energi sebagai kandidat investasi perdana dalam dana bersama senilai US$550 miliar yang menjadi pilar kesepakatan dagang kedua negara. Pada Oktober, kedua pihak telah mengumumkan daftar proyek potensial saat kunjungan Trump ke kawasan tersebut.

“Ekspor pada November tergolong kuat. Permintaan eksternal pada kuartal Oktober–Desember berpotensi menjadi salah satu faktor penopang perekonomian Jepang," ujar Suzuki.