English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Wall Street Melemah, Data Tenaga Kerja AS Picu Ketidakpastian

Bloomberg, · 12.6K Views

Bloomberg, Wall Street melemah pada Selasa (16/12), seiring munculnya tanda-tanda perlambatan pasar tenaga kerja yang tidak banyak mengubah ekspektasi investor terhadap rencana pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral AS atau (Federal Reserve).

Indeks S&P 500 ditutup turun 0,2% di New York, mencatatkan penurunan selama tiga hari berturut-turut, setelah rilis laporan ketenagakerjaan bulan November dan Oktober yang sempat tertunda. Sementara itu, indeks Nasdaq 100 justru naik 0,3%.

“Minggu ini menandai dimulainya ‘banjir data’ ekonomi AS menjelang Natal, yang merupakan imbas dari penutupan pemerintahan sebelumnya,” ujar Lindsay James, ahli strategi investasi di Quilter. Ia menambahkan bahwa data ketenagakerjaan tersebut hadir di “titik krusial”, setelah para investor sebelumnya kesulitan “mengukur suhu perekonomian AS”.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), jumlah tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) bertambah 64.000 pada November, setelah sebelumnya turun 105.000 pada Oktober. Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat sebesar 4,6% pada bulan lalu, naik dari 4,4% pada September dan menjadi yang tertinggi sejak 2021. Adapun angka pengangguran Oktober tidak dirilis oleh BLS karena kendala pengumpulan data secara retroaktif pasca penutupan pemerintahan.

Grafik S&P 500. (Sumber: Bloomberg)

“Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan cukup banyak tanda pelemahan untuk membenarkan pemangkasan suku bunga sebelumnya, namun belum memberikan dukungan yang kuat untuk pelonggaran yang jauh lebih agresif ke depan,” kata Kevin O’Neil, associate portfolio manager sekaligus analis riset senior di Brandywine Global. “Dengan sinyal pasar tenaga kerja yang masih bercampur, rilis data inflasi berikutnya bisa menjadi penggerak utama pasar saat kita memasuki tahun baru.”

Menurut Kepala Investasi Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli, laporan ketenagakerjaan tersebut “hanya akan menambah perdebatan internal” di tubuh The Fed yang selama ini sangat bergantung pada data.

Penjualan ritel tercatat relatif stagnan pada Oktober. Belanja yang cukup solid di sejumlah kategori tertahan oleh penurunan penjualan di dealer kendaraan bermotor. Nilai pembelian ritel—yang belum disesuaikan dengan inflasi—nyaris tidak berubah setelah revisi kenaikan 0,1% pada September, berdasarkan laporan Departemen Perdagangan AS yang juga sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan.

“Data hari ini menggambarkan perekonomian yang sedang mengambil jeda,” ujar Gina Bolvin, Presiden Bolvin Wealth Management Group. “Pertumbuhan lapangan kerja masih bertahan, tetapi mulai terlihat retakan. Konsumen masih berdiri, namun tidak lagi berlari kencang.”

Fokus utama investor kini tertuju pada rilis data indeks harga konsumen (IHK) yang dijadwalkan pada Kamis (18/12), ujar Direktur Riset XTB, Kathleen Brooks.

Laporan IHK tersebut “diperkirakan menunjukkan inflasi inti dan inflasi utama masing-masing sebesar 3% dan 3,1%,” kata Brooks. “Meski masih berada di atas target The Fed, level ini mengindikasikan inflasi relatif stabil, sekaligus memperkuat pandangan bahwa kebijakan tarif belum memicu lonjakan inflasi.”

Dari pergerakan saham individual, saham Pfizer Inc anjlok 3,4% setelah perusahaan farmasi tersebut memproyeksikan pertumbuhan penjualan yang minim atau bahkan stagnan tahun depan. Saham sektor energi juga melemah, tertekan oleh indikasi kelebihan pasokan serta potensi pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina yang membebani harga minyak.

Sementara itu, saham PayPal Holdings Inc menguat 1% setelah perusahaan teknologi finansial tersebut mengajukan izin untuk menjadi bank di AS. Di sisi lain, saham Humana Inc merosot 6% setelah perusahaan asuransi kesehatan itu menegaskan kembali proyeksi laba per saham yang disesuaikan untuk sepanjang tahun ini.