English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Bersabar, JP Morgan Tunggu Data Sebelum Beli Mata Uang Ini

Analisa Forex · 81.3K Views

JP Morgan Tunggu Data Sebelum Beli Mata Uang Ini

Kurs NZD/USD mengalami reli nonstop sejak minggu terakhir November lalu hingga menyentuh rekor tertinggi satu bulan pada 0.5751 kemarin. Pasangan mata uang tersebut masih terus berkonsolidasi dekat rentang yang sama dalam perdagangan hari ini (3/12/2025) berkat perbaikan sentimen pasar keuangan global. Para pakar dari bank-bank terkemuka dunia punya pandangan berbeda-beda mengenai fenomena ini.

Komentar pasar terkini dari JP Morgan menyebutkan bahwa penguatan kurs Dolar Selandia Baru belakangan ini terutama disebabkan oleh sikap bank sentralnya, Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), yang cenderung lebih hawkish. Mereka juga mencatat bahwa perusahaan-perusahaan hedge fund dengan gaya trading sistematis telah memborong Dolar Selandia Baru selama tiga sesi beruntun hingga mata uang ini ditutup di atas DMA-50 secara teknikal.

Terlepas dari itu, para analis di JP Morgan menilai Dolar Selandia Baru masih kekurangan data yang cukup kuat untuk menjustifikasi pembukaan posisi long baru. Mereka memilih untuk bersabar, menahan diri untuk tidak memberikan rekomendasi beli hingga latar belakang data ekonomi semakin membaik.

Beberapa bank multinasional ternama lainnya lebih gesit menanggapi peluang beli Dolar Selandia Baru. Minggu lalu, Citi mengatakan kelemahan NZD sudah berakhir. Goldman Sachs juga menyampaikan pandangan bullish untuk Dolar Selandia Baru terhadap Dolar Australia.

Menurut Goldman Sachs, “AUD/NZD lebih jelas digerakkan oleh perbandingan kebijakan moneter daripada pasangan mata uang NZD lainnya”. Mereka juga menilai “cukup masuk akal” untuk memasang posisi long bagi NZD saat ini karena data-data sudah menghijau dan posisi spekulatif short NZD masih dominan.

Kurs Dolar Australia telah menguat terhadap Dolar AS selama lebih dari sepekan terakhir, karena rilis data inflasi negeri Kanguru yang menggembirakan. Kendati demikian, Goldman Sachs menilai data inflasi tersebut tidak mengusik arah kebijakan bank sentral Australia (RBA).

Selain itu, para analis di Goldman Sachs menilai ada “alasan bagus” untuk berpandangan bearish terhadap Dolar AS sepanjang akhir tahun ini. Alasannya, Federal Reserve kemungkinan akan menurunkan suku bunga lagi.