

Market Analysis
Harga Minyak Mentah Naik, Terdongkrak Harapan Perdamaian Ukraina-Rusia

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak menguat pada perdagangan Jumat (28/11/2025) di tengah harapan terobosan pembicaraan perdamaian Rusia-Ukraina, meski pasar sepi karena libur Thanksgiving di Amerika Serikat (AS).
Melansir Reuters pada Jumat (28/11/2025), harga minyak berjangka jenis Brent naik 21 sen atau 0,2% ke US$63,34 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 45 sen atau 0,8% ke US$59,10 per barel pada pukul 13.46 waktu AS (ET) atau 18.46 GMT.
Analis komoditas SEB, Ole Hvalbye, mengatakan pasar bergerak di antara harapan dan skeptisisme terkait upaya baru menuju perdamaian di Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyampaikan bahwa delegasi AS dan Ukraina akan bertemu pekan ini untuk merumuskan formula yang dibahas dalam perundingan di Jenewa guna menghentikan perang dan memberikan jaminan keamanan bagi Kyiv.
Kedua pihak masih berusaha mempersempit perbedaan terkait rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Kyiv tetap berhati-hati terhadap kesepakatan yang dinilai terlalu menguntungkan Rusia, termasuk tuntutan konsesi wilayah.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan rancangan awal rencana perdamaian yang dibahas AS dan Ukraina dapat menjadi dasar kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Putin menegaskan, pertempuran akan berhenti setelah pasukan Ukraina menarik diri dari wilayah-wilayah kunci, tetapi Rusia akan mencapai tujuannya dengan kekuatan jika syarat itu tidak dipenuhi.
“Volatilitas geopolitik terus berlanjut, dan harapan potensi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina telah menetralkan kekhawatiran pasokan akibat sanksi baru AS terhadap produsen utama Rusia,” tulis Barclays dalam catatan riset.
Sementara itu, menurut dua delegasi dan satu sumber yang mengetahui pembahasan, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya atau OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan tingkat produksi pada pertemuan Minggu mendatang, serta menyepakati mekanisme penilaian kapasitas maksimum produksi anggota.
Delapan negara anggota OPEC+ yang secara bertahap meningkatkan produksi pada 2025 diproyeksikan mempertahankan kebijakan jeda kenaikan produksi pada kuartal I/2026.
Harga minyak juga didorong oleh meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) pada Desember 2025. Penurunan suku bunga biasanya mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat permintaan minyak.
“Kita memasuki akhir tahun dengan likuiditas yang semakin tipis tanpa katalis baru, kecuali The Fed memberikan panduan hawkish dalam pertemuan FOMC pada 10 Desember [2025],” ujar analis pasar senior OANDA, Kelvin Wong.
Menurut dia, harga WTI kemungkinan bergerak dalam rentang US$56,80 hingga US$60,40 hingga akhir tahun.

