

Market Analysis
Pergerakan Harga Emas Hari Ini Senin, 17 November 2025 di Pasar Dunia

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas 24 karat di pasar spot dunia hari ini, Senin, 17 November 2025 kembali bergerak ke zona merah setelah kemarin ditutup stabil di pasar New York, Amerika Serikat. Mengutip data Bloomberg, siang ini pukul 12.49 WIB emas bertengger di level US$4.057,35 per troy ounce. Level harga emas ini setara dengan penurunan US$26,71 per troy ounce alias turun -0,65% dibandingkan penutupan.
Sementara itu, dalam periode yang sama harga aset digital kembali ke zona hijau. Dalam catatan Bloomberg, Bitcoin sebagai aset terbesar kripto pada perdagangan pukul 12.54 WIB berada pada level US$95.093,75. Nilai ini naik US$1.662,76 dibandingkan penutupan kemarin alias naik 1.79%. Meskipun demikian, capain ini jauh dari rekor tertingginya yang mencapai US$126.000 pada bulan Oktober.
Setelahnya dalam beberapa pekan terakhir, Bitcoin merosot tajam dan sempat menghapus kenaikannya di tahun 2025. Penurunan tajam dari rekor tertinggi ini terjadi di tahun yang seharusnya mengukuhkan legitimasi Bitcoin. Wall Street telah melirik aset ini, dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) membawa kripto ke dalam portofolio utama dan pemerintahan Trump telah sepenuhnya merangkul kripto.
Namun, pasar telah mundur dengan cepat, tajam, dan tanpa pemicu yang jelas. Data Bloomberg mencatat total nilai pasar Bitcoin telah anjlok sekitar US$600 miliar dari titik tertingginya periode Oktober. Dalam dunia kripto, volatilitas memang sudah diperkirakan. Yang berbeda kali ini adalah betapa cepatnya keyakinan menguap, dan betapa sedikitnya penjelasan yang valid.
"Sentimen dalam kripto ritel begitu buruk sehingga masih mungkin ada penurunan di pasar. Orang-orang takut siklus empat tahun akan terulang, dan mereka tidak ingin mengalami penurunan 50% lagi. Orang-orang mengantisipasi hal itu dengan keluar dari pasar," kata Matthew Hougan, kepala investasi di Bitwise Asset Management, yang yakin harga Bitcoin akan naik tahun depan.
Sementara itu para investor emas dan para pembuat kebijakan sedang menunggu tumpukan data yang tertahan oleh penutupan pemerintah AS terlama dalam sejarah. Ketiadaan statistik yang andal selama enam minggu mengenai pasar tenaga kerja dan inflasi di negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini telah membuat beberapa pejabat semakin enggan untuk berkomitmen pada penurunan suku bunga lagi bulan depan.

