

Market Analysis
Wall Street Anjlok, Kekhawatiran Inflasi dan Sikap The Fed Tekan Saham Teknologi

NEW YORK, KOMPAS.com - Pasar saham.AS atau Wall Street terjerembab pada penutupan perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat pagi WIB), tepat sehari setelah Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali beroperasi usai 43 hari shutdown yang sempat mengacaukan arus data ekonomi.
Alih-alih merayakan dibukanya kembali pemerintahan, pasar justru terseret sentimen baru: melemahnya ekspektasi pemangkasan bunga The Fed.
Kekhawatiran bahwa inflasi belum cukup jinak serta sinyal perpecahan di internal bank sentral membuat investor memangkas harapan pemangkasan bunga lanjutan. Sejumlah pejabat The Fed dalam beberapa hari terakhir menyinggung stabilnya pasar tenaga kerja dan risiko inflasi, sehingga peluang penurunan suku bunga pada Desember kini nyaris berimbang.
Tekanan semakin besar ketika saham-saham teknologi dan AI memimpin kejatuhan. Nvidia merosot 3,6 persen, Tesla jatuh 6,6 persen, dan Broadcom melemah 4,3 persen—mencerminkan kegelisahan pasar terhadap valuasi tinggi sektor ini.
“Ada banyak ketidakpastian tentang kondisi ekonomi. Yang terjadi saat ini adalah koreksi kecil di sektor AI dan rotasi pasar,” ujar Kepala Ekonom Pasar Spartan Capital Securities, Peter Cardillo, dikutip Reuters, Jumat (14/11/2025).
Dampaknya terasa di seluruh pasar. Dow Jones anjlok 797,60 poin atau 1,65 persen ke 47.457,22. S&P 500 turun 1,66 persen menjadi 6.737,49, sementara Nasdaq merosot 2,29 persen ke 22.870,36, penurunan harian terdalam dalam lebih dari sebulan.
Sembilan dari 11 sektor S&P 500 memerah, dipimpin Consumer Discretionary yang turun 2,73 persen dan teknologi informasi yang melemah 2,37 persen.
Pergerakan ini juga memicu perpindahan arus modal: S&P 500 Value Index naik sekitar 1 persen sepanjang pekan, sedangkan S&P 500 Growth Index turun 0,6 persen, menandai pelepasan investor dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.
Dari sisi emiten, saham Walt Disney anjlok 7,8 persen setelah mengisyaratkan potensi perselisihan berkepanjangan dengan YouTube TV terkait distribusi saluran kabel.
Sebaliknya, Cisco Systems menguat 4,6 persen berkat kenaikan proyeksi laba dan pendapatan setahun penuh yang ditopang permintaan perangkat jaringan.
Pasar pun dipenuhi tekanan jual: jumlah saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 2,8 banding satu di S&P 500.
Bursa AS juga mencatat aktivitas perdagangan tinggi, dengan 20,8 miliar saham berpindah tangan, di atas rata-rata 20,3 miliar saham dalam 20 sesi terakhir.

