English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Bursa Saham Asia Siap Susul Wall Street, Terangkat Akhir Shutdown

Bloomberg · 50.8K Views

Bloomberg, Bursa saham Asia bersiap mengikuti reli Wall Street karena rencana Senat AS untuk mengakhiri penutupan pemerintah (government shutdown) terlama dalam sejarah memicu kembali minat investor terhadap risiko.

Kontrak berjangka saham Jepang dan Australia menunjukkan kenaikan pada awal perdagangan Asia, meski Hong Kong tampak relatif stabil. Indeks S&P 500 naik 1,5% pada Senin (10/11/2025) dan Nasdaq 100 melesat 2,2%, sementara indeks perusahaan China yang terdaftar di AS melonjak 2,3%.

Kenaikan saham AS disertai dengan penurunan Treasury setelah Gedung Putih menyatakan dukungannya terhadap kesepakatan bipartisan untuk mengakhiri shutdown. Perkembangan penting ini memungkinkan pemerintah dibuka kembali dalam beberapa hari lagi.

Rancangan undang-undang (RUU) pendanaan sementara yang akan mengakhiri shutdown sedang dalam proses untuk disahkan di Senat pada Senin malam waktu setempat.

Indeks dolar melemah pada Senin, sedangkan emas dan Bitcoin menguat. Indeks harga komoditas Bloomberg naik ke level tertinggi sejak Agustus 2022.  

Pergerakan lintas aset ini menunjukkan investor bersedia kembali masuk ke saham teknologi AS setelah tekanan jual baru-baru ini. Sementara investor lain fokus mencari perlindungan dari penurunan pada aset safe haven seperti logam mulia.

"Pembukaan kembali tidak hanya akan meningkatkan sentimen, tetapi juga membuka jalan bagi rilis data, yang bisa memberi wawasan lebih lanjut tentang kesehatan pasar tenaga kerja AS dan, secara lebih luas, ekonomi AS menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve bulan depan," jelas Fiona Cincotta dari City Index.

Obligasi pemerintah AS juga menghadapi uji permintaan dari lelang pekan ini senilai US$125 miliar. Pasar obligasi akan ditutup pada Selasa (11/11/2025) untuk memperingati Hari Veteran. 

Di Asia, data yang akan dirilis pada Selasa meliputi keyakinan bisnis di Australia, ekspektasi inflasi di Selandia Baru, dan data neraca transaksi berjalan Jepang.

Taiwan Semiconductor Manufacturing Co melaporkan pertumbuhan pendapatan bulanannya melambat karena investor memperdebatkan keberlanjutan ledakan kecerdasan buatan (AI).

Di sisi lain, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berencana menggunakan paket stimulus pertamanya untuk menggerakkan kembali ekonomi dan memulai strategi pertumbuhan baru melalui investasi di industri-industri utama.

Presiden AS Donald Trump juga mengindikasikan akan menurunkan tarif barang-barang India "pada suatu saat," dan AS "cukup dekat" dengan kesepakatan perdagangan dengan New Delhi.

Beberapa pergerakan utama di pasar:

Saham

Hang Seng turun 0,2% pada pukul 07.53 waktu Tokyo
S&P/ASX 200 naik 0,5%
Nikkei 225 naik 0,4%

Mata Uang

Indeks Dolar Spot Bloomberg sedikit berubah
Euro sedikit berubah ke level US$1,1559
Yen Jepang sedikit berubah menjadi 154,09 per dolar
Yuan offshore sedikit berubah menjadi 7,1214 per dolar

Kripto

Bitcoin naik 0,3% menjadi US$105.915,67
Ether naik 1% menjadi US$3.572,08

Obligasi

Imbal hasil obligasi Australia 10 tahun turun satu basis poin menjadi 4,38%