English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Wall Street Melemah, Bursa Asia Diproyeksi Ikut Terkoreksi

Bloomberg · 100.5K Views

Bloomberg, Saham-saham di Asia diperkirakan melemah pada perdagangan Jumat (7/11), mengikuti volatilitas pasar AS yang tertekan oleh kekhawatiran terhadap valuasi tinggi saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan tanda-tanda melambatnya pasar tenaga kerja.

Kontrak berjangka indeks saham untuk Jepang, Hong Kong, dan Australia sama-sama mencatat penurunan. Di AS, saham-saham anjlok untuk kedua kalinya dalam tiga hari, menyeret turun saham-saham teknologi besar berbasis AI seperti Nvidia Corp dan Palantir Technologies Inc. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun jatuh paling tajam dalam sebulan setelah data menunjukkan pemangkasan tenaga kerja pada Oktober mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Indeks volatilitas utama sempat menembus angka 20.

Investor yang sebelumnya mendorong reli pasar dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dan prospek pertumbuhan AI kini mulai mempertanyakan apakah belanja modal besar-besaran di sektor tersebut akan membuahkan hasil. Indikator teknikal menunjukkan sinyal kehati-hatian, sementara kekhawatiran bahwa hanya sedikit saham besar yang mendorong kenaikan pasar semakin meningkat.

“Pasar tampaknya masih gelisah terhadap valuasi saham-saham AI,” kata Dave Lutz dari Jonestrading, menambahkan bahwa saham-saham semikonduktor berada “di bawah tekanan yang cukup besar.”

Grafik S&P 500. (Sumber: Bloomberg)

Penurunan pasar terjadi di tengah berakhirnya musim laporan keuangan dan keterbatasan data ekonomi resmi akibat penutupan sebagian pemerintahan AS (government shutdown), yang membuat investor semakin bergantung pada data dari sektor swasta.

Data terbaru dari Challenger, Gray & Christmas Inc menunjukkan perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan 153.074 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Oktober, hampir tiga kali lipat dibandingkan bulan yang sama tahun lalu, dipicu oleh sektor teknologi dan pergudangan. Angka tersebut menjadi yang tertinggi untuk bulan Oktober sejak 2003, ketika kemunculan ponsel juga mengguncang industri, ujar Andy Challenger, Chief Revenue Officer perusahaan tersebut.

Laporan Challenger ini menjadi “masalah utama karena menunjukkan bahwa The Fed keliru mempertanyakan pemangkasan suku bunga pada Desember,” kata Michael Green, Kepala Strategi dan Manajer Portofolio di Simplify Asset Management.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun delapan basis poin menjadi 4,08%. Pasar uang kini memperkirakan kemungkinan lebih dari 70% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga bulan depan. Indeks dolar melemah 0,3%.

“Kami tetap pada pandangan bahwa The Fed akan melakukan pemangkasan tambahan sebesar 25 basis poin pada Desember karena kebijakan moneter yang terlalu ketat dapat memperburuk kondisi pasar tenaga kerja yang sudah rapuh,” ujar Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman & Co.

Sementara itu, Gubernur The Fed Cleveland Beth Hammack mengatakan inflasi masih menjadi risiko yang lebih besar dibanding pelemahan pasar tenaga kerja. Rekannya dari The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menyatakan kepada CNBC bahwa ketiadaan data inflasi selama penutupan pemerintahan membuatnya tidak nyaman untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga. Deputi Gubernur Michael Barr menambahkan bahwa pejabat The Fed masih memiliki pekerjaan untuk menurunkan inflasi sambil memastikan pasar tenaga kerja tetap solid.

Di sisi lain, pemerintahan Donald Trump terus melangkah dengan rencananya untuk menunda serangkaian sanksi terhadap industri galangan kapal China, termasuk usulan penundaan tarif impor derek pelabuhan dan sasis dari China.

Untuk komoditas, harga emas bergerak stabil seiring pelaku pasar menimbang pernyataan pejabat The Fed dan data tenaga kerja, sementara harga minyak memperpanjang penurunan setelah Arab Saudi menurunkan harga jual minyak mentahnya.