

Market Analysis
4 Tips Mengelola Keuangan Keluarga saat Ekonomi Sulit

JAKARTA, KOMPAS.TV - Financial Planner Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini memberikan sejumlah tips mengelola keuangan keluarga saat kondisi ekonomi sulit, misalnya ketika harga barang banyak yang naik, sementara pemasukan tetap.
Lantas, apa saja tipsnya? Simak uraian berikut!
1. Fokus Penuhi Kebutuhan Keluarga
Mike mengatakan, saat kondisi ekonomi sulit, pemasukan sebaiknya difokuskan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
"Pada saat harga naik, yang diutamakan adalah agar pemasukan atau pendapatan dari keluarga itu mesti memang difokuskan untuk mencukupi kebutuhan keluarga terlebih dahulu," ujarnya.
Mike lantas menyinggung mengenai jajan yang disebutnya bukan kebutuhan pokok, tetapi rawan membuat bocor anggaran keuangan keluarga.
"Jajan ini bukan yang harus mahal, tapi kadang jajan kecil-kecil itu bisa bikin dompet kita terkuras juga ya kalau kita lakukan setiap hari. Kadang saya lihat keluarga itu sehari dua tiga kali bisa jajan. Jajannya sih enggak banyak ya, Rp1.000, Rp2.000 begitu ya. Entah jajan gorengan atau sekedar minuman teh dingin itu aja sering saya lihat itu beli," paparnya.
2. Evaluasi Pengeluaran Rumah Tangga
Mike mengatakan, penting untuk melakukan evaluasi pengeluaran rumah tangga ketika harga barang naik.
"Jadi kebiasaan berbelanja kita, pos-pos pengeluaran untuk belanja kita, mesti kita evaluasi," tegasnya.
Ia mengatakan, jika kondisi mengharuskan kita untuk mengurangi atau meniadakan suatu pos pengeluaran, maka sebaiknya hal itu dilakukan.
"Tapi kita juga perlu lihat apakah semua pos pembelanjaan kita itu perlu ditiadakan, yang mana tidak mungkin, tapi mungkin bisa dikurangi. Jadi kalau ada yang bisa dihilangkan atau distop, itu kita stop. Kalau tidak bisa, itu kita kurangi," jelasnya.
Ia mencontohkan, pengeluaran untuk keperluan seperti jajan bisa distop. Sementara pengeluaran untuk kebutuhan pokok, seperti beras, sayur mayur, lauk pauk, minyak goreng, atau kebutuhan pokok lainnya tidak bisa dikurangi.
"Kalau selain distop atau dikurangi, maka yang ketiga pendekatannya buat ibu rumah tangga adalah kita mengganti barangnya," kata Mike menambahkan alternatif solusi.
Ia mencontohkan, misal ada sayur mayur yang harganya naik dan tidak, maka sebaiknya membeli sayur yang harganya tidak naik atau masih terjangkau, sementara yang mahal tidak perlu dibeli.
Mike juga menekankan agar pengeluaran rumah tangga diperiksa dan dicatat.
"Karena kalau kita membuat catatan mengenai kita ini pemasukan berapa, terus mau kita belanjakan buat apa saja, kita tuh jadi enggak sembarangan dengan uang kita. Udah uang kita tinggal segitu-gitunya ya. Berapapun sebenarnya kalau kita punya pemasukan, ketika kita tidak punya anggaran, maka itu bisa habis dengan sangat cepat," jelasnya.
Selain itu, Mike mengatakan sebaiknya ada rencana belanja rumah tangga, misalkan setiap bulan atau jangka waktu tertentu, agar uang bisa dikeluarkan sesuai dengan pos-pos prioritas.
3. Kelola Utang, Dana Darurat, dan Investasi
Mike menekankan perlunya pengelolaan utang, dana darurat dan juga investasi. Ia lantas membeberkan tipsnya untuk mengatur tiga hal tersebut.
"Begitu banyak pengeluaran, maka memang harus kita atur sedemikian rupa. Prioritas pertama tentu harus kita letakkan pada tabungan dan investasi," ujarnya.
Mike mengatakan, bagaimanapun sulitnya pun kondisi ekonomi, ia menyarankan rumah tangga tetap harus punya tabungan.
"Tabungan ini kalau kita terjadi emergency, maka kita bisa mengambil dari tabungan kita. Makanya kita kita coba usahakan 10 persen dari penghasilan kita kita masukkan ke dalam tabungan. Tujuannya tadi untuk emergency," jelasnya.
Mike menambahkan, jika sebuah keluarga punya tujuan keuangan lain, seperti mempersiapkan dana pendidikan anak atau mempersiapkan pensiun, maka tabungannya bisa ditingkatkan menjadi sebesar 20-30 persen.
"Tetapi bagaimana kalau enggak bisa, enggak bisa 10 sampai 30 persen? Dengan dana yang ada. Anda misalnya bisa nabung Rp20.000 ya seminggu sekali atau Rp30.000 atau bahkan Rp10.000 ya setiap hari. Itu boleh Anda lakukan. Yang penting kita terbiasa menabung dan memiliki dana cadangan atau dana darurat," ucapnya.
Ia juga menyinggung mengenai cicilan utang yang kerap ditemui dalam masyarakat Indonesia.
"Yang kedua, ini yang saya perhatikan tiap rumah tangga Indonesia ada, yaitu cicilan utangnya. Nah, cicilan utang ini kalau kita tidak bayar kan kita bisa kena penalti, malah berbahaya," ujarnya.
Mike menyarankan cicilan utang harus dibatasi jumlahnya agar tidak memberatkan keuangan keluarga, terlebih dalam kondisi ekonomi sulit.
"Jumlahnya itu tidak boleh lebih dari sepertiga dari penghasilan kita. Jumlahnya lebih kecil cicilan hutangnya itu semakin baik," ucapnya.
Selain itu, Mike juga menekankan perlunya rumah tangga mempunyai asuransi BPJS.
"Semuanya kita setidaknya harus punya BPJS ya untuk berjaga-jaga kalau terjadi emergency. Kita harus ke rumah sakit atau ada kondisi kesehatan yang menurun. Itu harus kita usahakan jangan sampai tidak dibayar," katanya.
4. Kerja Sama Seluruh Anggota Keluarga
Mike mengatakan, keberhasilan mengelola keuangan rumah tangga harus didukung seluruh anggota keluarga.
"Kalau kita sebut keluarga, ini memerlukan kerja sama dari seluruh anggota keluarga. Kalau ibu rumah tangganya sudah hemat, sementara anaknya minta jajan, bapaknya jadi kurang disiplin, pengin jalan-jalan juga, akibatnya apa? Kemampuan rumah tangga untuk memenuhi gizi rumah tangga menjadi semakin tertekan," katanya.
Oleh karena itu, Mike menekankan pentingnya membangun perilaku yang suportif dari seluruh anggota keluarga demi mendukung kesuksesan finansial rumah tangga.

