

Market Analysis
Pasar Tak Pasti, OPEC+ Rem Produksi Minyak Awal Tahun Depan

Bisnis.com, JAKARTA — OPEC+ akan menahan kenaikan produksi minyak pada kuartal I/2026 untuk mengantisipasi potensi surplus pasokan di tengah ketidakpastian pasar akibat sanksi terhadap Rusia dan melemahnya permintaan global.
Melansir Bloomberg pada Senin (3/11/2025), anggota kunci OPEC+ yang dipimpin oleh Arab Saudi sepakat dalam konferensi video pada Minggu (2/11/2025) untuk menambah produksi sebesar 137.000 barel per hari bulan depan, mengikuti kenaikan yang sudah dijadwalkan pada Oktober dan November. Setelah itu, kelompok tersebut akan mengambil jeda produksi pada Januari—Maret 2026.
Menurut para delegasi, keputusan untuk menunda kenaikan produksi pada kuartal pertama mencerminkan ekspektasi akan perlambatan musiman permintaan minyak.
Dengan mengambil jeda pada awal tahun depan, delapan negara anggota masih memiliki sekitar 1,2 juta barel per hari dari kuota pasokan saat ini yang belum sepenuhnya dipulihkan.
Para delegasi menyebut keputusan pada Minggu mendapat dukungan luas dari negara anggota. Namun, keputusan ini juga muncul di tengah ketidakpastian pasar energi global. Sanksi terhadap Rusia, rekan utama Arab Saudi dalam OPEC+, menimbulkan pertanyaan mengenai prospek pasokan dari Moskow.
Di sisi lain, sejumlah pelaku pasar memperingatkan potensi kelebihan pasokan yang diperkirakan akan terus membesar hingga tahun depan.
“Langkah jeda ini memang mengejutkan, tetapi tergolong bijak mengingat ketidakpastian pasokan pada kuartal pertama,” ujar Kepala Strategi Komoditas di RBC Capital, Helima Croft.
Sanksi terhadap Rusia sempat membantu menopang harga minyak yang sebelumnya jatuh ke level terendah dalam lima bulan. Namun, menurut salah satu delegasi OPEC+, masih terlalu dini untuk menilai dampak menyeluruh dari kebijakan tersebut terhadap pasar global.
Jeda produksi pada Januari—Maret 2026 akan menjadi yang pertama sejak OPEC+ mulai memulihkan pasokan yang sempat dihentikan pada April lalu.
“OPEC+ tampak mundur selangkah, tetapi langkah ini bersifat terukur,” kata Jorge Leon, analis di Rystad Energy AS yang pernah bekerja di Sekretariat OPEC.
Leon menambahkan, sanksi terhadap produsen minyak Rusia telah menambah lapisan ketidakpastian dalam proyeksi pasokan.
Harga minyak mentah Brent telah turun sekitar 13% sepanjang tahun ini dan ditutup di bawah US$65 per barel pada perdagangan Jumat (31/10/2025). Selain sanksi terhadap Rusia, harga minyak juga terdorong oleh kesepakatan gencatan dagang selama satu tahun antara Amerika Serikat (AS) dan China pekan lalu.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dijadwalkan mengunjungi Washington akhir bulan ini untuk bertemu Presiden AS Donald Trump, yang berulang kali menyerukan OPEC agar membantu menurunkan harga bahan bakar.
Kenaikan produksi aktual OPEC+ tercatat masih jauh di bawah target yang diumumkan, karena sebagian negara menyeimbangkan kelebihan produksi sebelumnya dan lainnya menghadapi kesulitan teknis dalam meningkatkan kapasitas. Kondisi ini membuat dampak kenaikan produksi terhadap pasar menjadi terbatas.
OPEC+ berulang kali menegaskan bahwa langkah pemulihan produksi tahun ini dilakukan berdasarkan “fundamental pasar yang sehat” dan rendahnya level persediaan minyak global.
Harga yang tetap stabil sepanjang sebagian besar tahun ini, meski pasokan tambahan sebesar 2,2 juta barel per hari dipulihkan lebih cepat dari jadwal, dianggap sebagai pembenaran atas kebijakan tersebut.
Namun, tanda-tanda kelebihan pasokan global semakin nyata, terutama di tengah perlambatan permintaan dari China dan lonjakan produksi di kawasan Amerika. Sejumlah perusahaan dagang besar seperti Trafigura Group menyebut kelebihan pasokan sudah terjadi, terlihat dari meningkatnya jumlah minyak yang disimpan di armada kapal tanker dunia.
Badan Energi Internasional (IEA) di Paris memperkirakan pasokan global dapat melampaui permintaan lebih dari 3 juta barel per hari pada kuartal ini, dan berpotensi membengkak menjadi surplus terbesar sepanjang sejarah pada tahun depan. JPMorgan Chase & Co. serta Goldman Sachs Group Inc. juga memproyeksikan harga minyak bisa kembali turun di bawah US$60 per barel.
Penurunan harga ini turut menekan produsen minyak, termasuk perusahaan pengeboran serpih (shale) di AS. Meskipun AS masih menjadi sumber utama pertumbuhan pasokan tahun ini, produksi diperkirakan akan melambat pada 2026. Para eksekutif industri shale memperingatkan bahwa berkurangnya investasi dapat membuat sektor ini mencapai titik kritis.
Sementara itu, perubahan kebijakan Arab Saudi yang kini lebih fokus pada pangsa pasar daripada harga juga berdampak pada kondisi fiskal kerajaan. Defisit anggaran negara tersebut meningkat pada kuartal III/2025, memaksa pemerintah memangkas sebagian belanja untuk proyek transformasi ekonomi, termasuk pembangunan kota futuristik Neom.
Aliansi OPEC+ yang terdiri dari 22 negara dijadwalkan menggelar pertemuan lanjutan pada 30 November 2025 untuk meninjau kembali level produksi minyak tahun 2026.
