

Market Analysis
Harga Emas Hari Ini, Kamis 30 Oktober di Pasar Spot usai The Fed Pangkas Suku Bunga

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas menguat pada awal perdagangan Kamis (30/10/2025), setelah mencatat pelemahan empat hari berturut-turut seiring turunnya ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut dari Federal Reserve.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot terpantau menguat 0,75% atau 30,67 poin ke level US$3.960,74 per troy ounce pada pukul 08.05 WIB, setara Rp2,113 juta per gram.
Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS melemah 0,99% atau 39,50 poin ke level US$3.961,20 per troy ounce.
Harga emas sebelumnya melemah setelah Ketua The Fed Jerome Powell meredam kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga pada Desember, usai The Fed memangkas suku bunga 25 basis poin pada pertemuan FOMC yang berakhir kemarin.
Powell menilai terlalu dini untuk berspekulasi soal potensi pemangkasan suku bunga tambahan pada 2025. Imbal hasil obligasi dan nilai dolar AS yang menguat pasca pernyataan Powell menekan harga emas, yang tidak memberikan imbal hasil dan dihargai dalam dolar.
Logam mulia ini sempat anjlok tajam dalam beberapa hari terakhir setelah reli panas yang mendorong harga menembus rekor di atas US$4.380 per ons pekan lalu. Sejumlah indikator teknikal menunjukkan reli tersebut sudah terlalu jauh, sementara kemajuan dalam pembicaraan dagang AS-China turut mengikis daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan menandatangani kesepakatan damai dagang di Korea Selatan pada Kamis, yang berpotensi menunda atau mencabut sebagian tarif serta pembatasan ekspor yang memicu perang dagang selama beberapa bulan terakhir.
Meski mengalami koreksi tajam, harga emas masih menguat sekitar 50% sepanjang tahun ini, ditopang oleh pembelian besar-besaran dari bank sentral dan meningkatnya minat terhadap strategi “debasement trade” — langkah investor untuk menjauhi utang dan mata uang negara demi melindungi nilai kekayaan di tengah membengkaknya defisit fiskal.
“Pasar memang tengah mengalami koreksi alami, namun kami melihat fase bullish kali ini berbeda dari sebelumnya, baik dari sisi skala maupun kedalaman permintaan moneter,” ujar Kepala Multi-Asset dan Fixed Income Schroders Sebastian Mullins dalam laporan risetnya.
Arus keluar dari exchange-traded fund (ETF) berbasis emas juga mulai menggerus dukungan terhadap reli tahun ini. Total kepemilikan ETF emas global turun selama lima hari berturut-turut hingga Selasa — periode penurunan terpanjang sejak Mei, menurut data Bloomberg.
Investor kini menanti rilis laporan permintaan emas kuartalan dari World Gold Council yang dijadwalkan terbit Kamis malam waktu Asia, sebagai acuan untuk mengukur arah permintaan dari investor institusional dan bank sentral ke depan.

