

Market Analysis
Harga Emas Berbalik ke Zona Merah, Saatnya Beli?

Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan investor masih meyakini harga emas akan menguat dalam satu tahun ke depan, meskipun dalam sepekan terakhir harga logam mulia itu bergerak meninggalkan rekor tertingginya sepanjang masa.
Dilansir dari Bloomberg, Rabu (29/10/2025), kenaikan harga emas yang pesat dan penurunannya yang tajam baru-baru ini menjadi topik utama di konferensi logam mulia London Bullion Market Association (LBMA) di Kyoto, Jepang. Suasana hati para investor emas masih cenderung bullish. Dari survei terhadap 106 peserta, logam mulia berwarna kuning itu diproyeksikan akan diperdagangkan hampir US$5.000 per troy ounce dalam setahun mendatang.
John Reade, ahli strategi pasar di World Gold Council, menyebut bahwa meskipun ada optimisme, permintaan dari bank sentral yang selama ini menjadi pendorong harga emas tidak sekuat sebelumnya. Penurunan harga yang lebih dalam justru dinilai dapat disambut baik oleh pelaku pasar.
Koreksi harga disebut memberikan peluang bagi bank sentral untuk meningkatkan pembelian. Salah satunya adalah bank sentral Korea Selatan yang dikabarkan sedang mempertimbangkan pembelian tambahan dalam jangka menengah hingga panjang. “Bank Sentral Korsel terakhir kali membeli emas batangan lebih dari satu dekade lalu,” ungkap seorang pejabat lembaga itu dalam pertemuan LBMA di Jepang.
Analis Bank of America, Michael Widmer, menilai bahwa reli emas baru-baru ini bukanlah fenomena baru. “Tidaklah luar biasa jika dibandingkan dengan pasar emas bullish mana pun sejak tahun 1970,” katanya.
Meski demikian, para analis memperkirakan harga emas batangan berpotensi turun lebih dalam ke level US$3.800 hingga akhir tahun ini. Saat ini, emas batangan dinilai dalam kondisi overbought, tetapi investasi di aset ini masih tergolong rendah. Total investasi emas relatif terhadap pasar ekuitas dan pendapatan tetap masih berada di kisaran 5 persen, meskipun terdapat seruan untuk mengganti portofolio tradisional 60:40 dengan komposisi 60:20:20.
Pada perdagangan Rabu (29/10/2025) pagi, harga emas di pasar spot naik 0,57 persen menjadi US$3.974,69 per ons. Sebelumnya, dalam tiga hari pertama pekan ini, harga emas sempat melanjutkan pelemahannya setelah kemajuan perundingan perdagangan antara Amerika Serikat dan China mengurangi minat terhadap aset safe haven.
Harga emas batangan turun di bawah US$3.960 per ons pada Selasa setelah melemah 3,2 persen pada sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi setelah negosiator dari Washington dan Beijing mengumumkan kesepakatan terkait tarif dan kontrol ekspor yang berpotensi meredakan ketegangan perdagangan.
Sebelumnya, emas sempat mencapai rekor tertinggi di atas US$4.380 per ons pada Senin lalu. Meski kini terkoreksi, harga emas masih naik sekitar 50 persen sepanjang tahun ini. Kenaikan itu ditopang oleh pembelian bank sentral dan aksi lindung nilai (hedging) investor terhadap risiko devaluasi akibat defisit fiskal yang membesar di berbagai negara.
Dukungan terhadap harga emas juga datang dari meningkatnya minat investor institusional dan ritel yang memperbesar dana di produk exchange-traded fund (ETF) emas. Namun, ETF sempat mengurangi kepemilikan sebesar 448.706 troy ounce pada Senin, penurunan terbesar dalam enam bulan terakhir. Nilainya setara dengan sekitar US$1,79 miliar pada harga spot hari itu.
“Meskipun emas terus mencapai titik terendah dan volume berjangka tetap tinggi di hari-hari yang melemah, memprediksi titik terendah adalah hal yang sulit,” ujar Chris Weston, Kepala Riset di Pepperstone Group Ltd., dalam sebuah catatan riset.
Dia menambahkan, strategi terbaik saat ini adalah membeli emas secara taktis dalam momentum terbaiknya. “Untuk saat ini, lebih masuk akal untuk membiarkan pihak lain bekerja keras dan secara taktis membeli emas dalam kondisi terbaiknya setelah penurunan,” ujarnya.

