

Market Analysis
Harga Emas Hari Ini, Selasa 28 Oktober di Pasar Spot, Menguat atau Makin Anjlok?

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas menguat tipis pada Selasa (28/10/2025) setelah sempat terjun di bawah ambang US$4.000 per troy ounce, tertekan oleh optimisme baru perundingan dagang antara Amerika Serikat dan China yang mengurangi minat terhadap aset lindung nilai.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot terpantau menguat 0,23% atau 12,57 poin ke level US$3.994,78 per troy ounce pada pukul 06.21 WIB, setara Rp2,13 juta per gram.
Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS masih melemah 0,46% atau 18,4 poin ke level US$4.001,3 per troy ounce.
Harga emas di pasar spot menguat tipis setelah anjlok penurunan 3,2% pada Senin usai negosiator dari Washington dan Beijing menyatakan telah mencapai sejumlah kesepakatan mengenai tarif dan pengendalian ekspor.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik meski pelaku pasar tetap memperkirakan The Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pekan ini — tekanan yang menahan minat terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Emas telah anjlok setelah menyentuh rekor tertinggi sedikit di atas US$4.380 per ons pada awal pekan lalu, mengakhiri reli tajamnya. Kendati demikian, emas masih termasuk salah satu aset dengan kinerja terbaik sepanjang tahun, ditopang oleh pembelian besar-besaran bank sentral dan tren “debasement trade”, di mana investor menghindari surat utang negara dan mata uang demi melindungi kekayaan dari risiko defisit fiskal yang membengkak.
Kepala Riset Pepperstone Group Ltd. Chris Weston mengatakan posisi beli yang terlalu padat bisa runtuh dengan cepat ketika pelaku pasar dengan leverage bergegas mengamankan keuntungan.
“Selama emas terus membentuk posisi terendah baru dan volume perdagangan berjangka tetap tinggi di hari pelemahan, menebak titik dasar akan sulit — butuh keahlian dan keberuntungan. Untuk saat ini, lebih bijak menunggu dan masuk saat momentum rebound muncul,” ungkapnya seperti dikutip Bloomberg.
Menurut analis Citigroup Inc., termasuk Max Layton, langkah baru Presiden Donald Trump yang lebih terbuka terhadap kesepakatan dagang dengan China dan negara lain, perubahan momentum harga, serta potensi berakhirnya penutupan pemerintahan AS akan menekan harga emas dalam beberapa hari hingga pekan mendatang.
Mereka memproyeksikan harga emas turun ke kisaran US$3.800 dalam tiga bulan ke depan.
Lonjakan harga emas tahun ini, disusul koreksi tajam belakangan, menjadi topik hangat di konferensi logam mulia tahunan London Bullion Market Association (LBMA) yang dibuka di Kyoto pada Minggu.
Analis pasar World Gold Council John Reade menuturkan bahwa permintaan bank sentral kini tidak sekuat sebelumnya, dan koreksi yang lebih dalam justru dapat memberikan ruang bagi dealer profesional untuk bernapas.

