English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Harga Emas Global Melemah ke Rp2,17 Juta per Gram Imbas Kesepakatan AS-China

Bisnis · 794.3K Views

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas masih melanjutkan pelemahan pada Senin (27/10/2025) setelah mencatat koreksi mingguan pertama sejak pertengahan Agustus dipicu kemajuan dalam negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan China yang mengikis minat terhadap aset safe haven.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot terpantau melemah 0,97% atau 39,97 poin ke level US$4.073,08 per troy ounce, setara Rp2,17 juta per gram pada pukul 14.13 WIB.

Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS kontrak Desember 2025 terpantau melemah 1,18% atau 48,8 poin ke level US$4.089 per troy ounce.

AS dan China mengisyaratkan bahwa kesepakatan dagang komprehensif hampir rampung menjelang kunjungan Presiden Donald Trump ke Asia untuk serangkaian agenda diplomatik. Kesepakatan tersebut berpotensi meredakan risiko ekonomi dan tensi geopolitik yang selama ini menjadi penopang reli emas.

Reli besar yang sempat membawa emas menyentuh rekor baru sedikit di atas US$4.380 per troy ounce pada Senin pekan kini mulai memudar, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa aset ini telah berada di wilayah jenuh beli.

Meski demikian, harga emas masih menguat sekitar 55% sepanjang tahun, ditopang pembelian agresif bank sentral serta tren “debasement trade,” yakni langkah investor menghindari utang pemerintah dan mata uang demi melindungi diri dari defisit anggaran yang melebar.

Analis pasar senior Capital.com Kyle Rodda mengatakan harga emas saat ini sedang kembali pada pergerakan yang lebih fundamental dan rasional.

“Respons pasar terhadap perkembangan dagang AS-China memang cukup spontan, tetapi hasilnya jauh lebih positif dari yang diperkirakan,” ungkap Rodda seperti dikutip Bloomberg.

Pasar kini bersiap menyambut pekan padat kebijakan moneter dari Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, dan Bank of Japan. The Fed diproyeksikan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, sementara dua bank sentral lainnya diperkirakan mempertahankan suku bunga.

Kebijakan suku bunga rendah umumnya menjadi angin segar bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Di sisi lain, hampir 1.000 pelaku industri emas — mulai dari trader hingga penjinak logam mulia — memadati konferensi London Bullion Market Association (LBMA) di Kyoto, Jepang.

Tingginya jumlah peserta mencerminkan meningkatnya persaingan dalam perebutan talenta di industri emas global.