

Market Analysis
Harga Minyak Mentah Menguat Tersulut Optimisme Deal AS-China

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak menguat pada Senin (27/10/2025) seiring membaiknya hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China, yang memperkuat prospek permintaan energi dan mendorong minat terhadap aset berisiko.
Melansir Bloomberg, harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) kontrak Desember 2025 terpantau menguat 0,59% atau 0,36 poin ke level US$61,36 per barel pada pukul 07.47 WIB.
Sementara itu, harga minyak patokan Brent menguat 0,56% atau 0,37 poin ke level US$66,31 per barel.
Para negosiator utama AS dan China mengatakan kedua negara telah mencapai kata sepakat dalam sejumlah isu, membuka jalan bagi Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping untuk memfinalisasi kesepakatan pada Kamis mendatang.
Dalam wawancara dengan CBS News, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan ancaman Trump untuk memberlakukan tarif hingga 100% terhadap produk asal China praktis tidak lagi menjadi pertimbangan dengan adanya kesepakatan ini.
AS dan China merupakan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, dan meredanya ketegangan yang sempat mengguncang pasar global dinilai akan menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi dunia.
Harga minyak rebound dari posisi terendah lima bulan minggu lalu, setelah sanksi AS terhadap dua produsen minyak terbesar Rusia menyeimbangkan kekhawatiran akan kelebihan pasokan global.
Penurunan impor minyak asal Rusia dari India dan China diperkirakan akan mendorong permintaan terhadap jenis minyak lain, menopang harga yang selama ini tertekan oleh meningkatnya produksi dari aliansi OPEC+.
Founder Vanda Insights Vandana Hari mengatakan harapan akan tercapainya kesepakatan dagang AS-China dalam waktu dekat menjadi dorongan positif bagi sentimen ekonomi dan permintaan minyak. Dorongan ini lebih tinggi dibandingkan dari sentimen Rusia.
“Namun, saya memperkirakan kondisi surplus pasokan akan tetap membatasi kenaikan harga. Brent kemungkinan akan kembali bergerak di kisaran tinggi US$60-an,” ungkapnya seperti dikutip Bloomberg, Senin (27/10/2025).
Menurut pejabat AS, sanksi terhadap Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC merupakan bagian dari strategi untuk mengakhiri perang di Ukraina dengan cara membuat perdagangan minyak Rusia lebih sulit, lebih mahal, dan lebih berisiko.
Namun, sanksi tersebut diperkirakan tidak menimbulkan guncangan pasokan yang dapat memicu lonjakan harga global.
Hingga saat ini, sejumlah kilang di India memperkirakan impor minyak Rusia akan turun mendekati nol, sementara pembeli di China menunda sebagian transaksi.

