

Market Analysis
Harga Minyak Global Melonjak 5% Usai AS Jatuhkan Sanksi ke Rosneft & Lukoil

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia naik sekitar 5% ke level tertinggi dalam dua pekan setelah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap dua raksasa energi Rusia, Rosneft dan Lukoil, yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan global.
Melansir Reuters pada Jumat (24/10/2025), harga minyak mentah jenis Brent naik US$3,40 atau 5,4% menjadi US$65,99 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat US$3,29 atau 5,6% menjadi US$61,79 per barel.
Kenaikan ini merupakan lonjakan harian terbesar sejak pertengahan Juni sekaligus penutupan tertinggi sejak 8 Oktober.
“Pengumuman sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil merupakan eskalasi besar dalam upaya menekan sektor energi Rusia dan berpotensi cukup kuat untuk menggeser pasar minyak global ke kondisi defisit tahun depan,” ujar David Oxley, Kepala Ekonom Iklim dan Komoditas di Capital Economics.
Data energi AS mencatat Rusia sebagai produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia pada 2024 setelah AS.
Selain harga minyak mentah, kontrak berjangka diesel AS juga melonjak hampir 7%, mendorong crack spread—selisih margin keuntungan kilang—ke posisi tertinggi sejak Februari 2024.
Menurut analis Saxo Bank, Ole Hansen, sanksi baru AS membuat kilang di China dan India, yang selama ini menjadi pembeli utama minyak Rusia, perlu mencari pemasok alternatif agar tidak terisolasi dari sistem keuangan Barat.
Beberapa sumber perdagangan menyebutkan kepada Reuters bahwa perusahaan minyak milik negara China telah menangguhkan pembelian minyak Rusia yang dikirim melalui laut dari Rosneft dan Lukoil, dua perusahaan yang kini masuk dalam daftar sanksi AS. Langkah ini turut memperkuat kenaikan harga minyak global.
Sementara itu, Menteri Perminyakan Kuwait menyatakan bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) siap menambah produksi untuk menutupi potensi kekurangan pasokan di pasar global.
Presiden Rusia Vladimir Putin menilai pasar global akan membutuhkan waktu untuk menggantikan pasokan minyak Rusia.
“Ini jelas merupakan upaya untuk menekan Rusia. Namun, tidak ada negara atau rakyat yang bermartabat akan mengambil keputusan di bawah tekanan," kata Putin.
Pemerintah AS menegaskan siap mengambil langkah tambahan dan kembali mendesak Moskow untuk segera menyetujui gencatan senjata di Ukraina.
Pavel Molchanov, analis strategi investasi di Raymond James menuturkan, berbagai sanksi AS dan Uni Eropa sejauh ini belum berdampak signifikan pada kemampuan Rusia mengekspor minyak. Oleh karena itu, dia ragu putaran sanksi terbaru ini akan menjadi titik balik.
"Meski begitu, Kremlin mungkin harus menggunakan cara-cara yang lebih rumit untuk menyalurkan minyaknya secara tersembunyi, yang akan meningkatkan biaya,” ujarnya.
Molchanov menambahkan, pihaknya akan terus memantau perkembangan ini mengingat ekspor minyak Rusia menyumbang sekitar 7% dari pasokan global.
Sebelumnya, Inggris juga telah menjatuhkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil pada pekan lalu, sedangkan Uni Eropa menyetujui paket sanksi ke-19 yang mencakup larangan impor gas alam cair (LNG) Rusia.
Dalam daftar sanksi terbarunya, Uni Eropa turut menambahkan dua kilang China dengan kapasitas gabungan 600.000 barel per hari serta Chinaoil Hong Kong, unit perdagangan PetroChina.
Menurut analis UBS, Giovanni Staunovo, dampak sanksi terhadap pasar minyak akan bergantung pada reaksi India dan kemampuan Rusia mencari pembeli baru.
Sejumlah sumber industri menyebutkan, kilang-kilang di India—yang selama ini menjadi pembeli terbesar minyak Rusia berharga diskon sejak pecahnya perang di Ukraina—berencana memangkas drastis impor dari Rosneft dan Lukoil untuk mematuhi sanksi baru AS. Langkah ini berpotensi membuka jalan bagi kesepakatan dagang energi antara AS dan India.
Perusahaan swasta Reliance Industries, pembeli terbesar minyak Rusia di India, disebut tengah mempertimbangkan untuk mengurangi atau menghentikan sepenuhnya impor minyak dari Rusia, menurut dua sumber yang mengetahui rencana tersebut.

